Madiun

Jelimet, Petani Enggan Tanam Kopi Arabika

MADIUN – Masih dari sektor pertanian. Kopi arabika belum bisa diproduksi besar-besaran di Kabupaten Madiun. Pasalnya, petani yang membudidayakan kopi bercita rasa asam itu hanya sedikit. Salah satunya Kelompok Tani (Klomtan) Mugi Lestari, Desa/Kecamatan Kare. Dari total lahan 40 hektare, hanya sekitar 10 persen yang ditanami kopi arabika. ‘’Dulu malah hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Tidak untuk dijual,’’ kata Sumadi, salah seorang anggota klomtan ini, Senin (8/7).

Sumadi mengungkapkan bahwa klomtannya dari dulu sudah memproduksi kopi arabika. Namun, tidak semua kopi bisa dikeluarkan sekaligus. Petani harus menyimpannya dulu. Kalau ada pesanan baru dikeluarkan. Begitu pun untuk jenis kopi yang lain. Khusus kopi arabika, memang masih sedikit produksinya. ‘’Pesanan juga kami batasi. Tidak boleh lebih dari satu kilogram,’’ terangnya.

Setahun mereka hanya bisa panen sekali. Lahan penanaman harus di atas 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kopi arabika butuh perawatan lebih jelimet ketimbang kopi robusta. Sehingga, mayoritas petani lebih suka menanam kopi robusta. Biaya produksi lebih irit. Meski sebenarnya kopi arabika asal Kabupaten Madiun banyak diminati. ‘’Tidak kalah dengan kopi dari luar daerah,’’ klaim Sumadi.

Sejatinya, dinas perdagangan koperasi dan usaha mikro (perdagkop-UM) setempat sudah mengajak para petani studi banding ke Jawa Barat. Di sana dalam setahun kopi arabika bisa dipanen dua kali. Sehingga, stoknya terjaga. ‘’Di sana petaninya kompak menanam arabika. Pun kondisi geografisnya lebih tinggi ketimbang Kabupaten Madiun,’’ kata Kabid Perindustrian Dinas Perdagkop-UM Kabupaten Madiun Bambang Sudjiono.

Dia berharap petani Kabupaten Madiun juga bisa memproduksi kopi arabika dalam jumlah besar. Pihaknya kerap berkoordinasi dengan dinas pertanian dan perikanan yang juga membina para petani kopi. Sementara pihaknya turut mendorong petani dalam pemasaran dan pengemasan yang menarik dan lebih higienis. ‘’Informasinya sudah ada penanaman lagi. Tapi baru tahun berikutnya bisa dipanen,’’ jelasnya. (fat/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button