News

Jelaskan Latar Belakang Pemberontakan Di/tii Dan Rms Di Indonesia

×

Jelaskan Latar Belakang Pemberontakan Di/tii Dan Rms Di Indonesia

Share this article

Jelaskan Latar Belakang Pemberontakan Di/tii Dan Rms Di Indonesia – Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) adalah gerakan yang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia. Pemberontakan dimulai di Jawa Barat kemudian menyebar ke daerah lain seperti Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan.

Oleh Nana Supriatna, Mamat Ruhimat dan Kosim, pemberontakan DI/TII di berbagai daerah memiliki sejarahnya masing-masing. Lantas apa saja perbedaan latar belakang pemberontakan DI/TII khususnya di Jawa Barat dan Aceh?

Jelaskan Latar Belakang Pemberontakan Di/tii Dan Rms Di Indonesia

Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo (S.M. Kartosuwirjo). Latar belakang DI/TII di Jawa Barat adalah ditandatanganinya Perjanjian Renville pada tahun 1948, yang mengharuskan pengikut RI meninggalkan Jawa Barat dan pindah ke Jawa Tengah. Menurut Kartosuwirjo, ini merupakan pengkhianatan pemerintah Indonesia terhadap perjuangan Jawa Barat.

Pemberontakan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (di/tii)

Ia bersama sekitar 2.000 pengikutnya, termasuk tentara Hizbullah dan Sabilillah, menolak bergerak dan memulai upaya mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Proklamasi NII dilakukan pada tanggal 7 Agustus 1949.

Pemerintah Indonesia awalnya mencoba menyelesaikan gerakan tersebut secara damai melalui sebuah panitia yang diketuai oleh ketua Masyumi Natsir. Sayangnya panitia tidak mampu memenangkan kembali Kartosuwirjo ke tangan RI. Maka pada tanggal 27 Agustus 1949, pemerintah Indonesia melakukan penumpasan yang disebut Operasi Baratayutha.

Pemberontakan DI/TII di Aceh dipimpin oleh Daud Beureuh, seorang pendeta berpengaruh di Aceh. Peristiwa DI/TII di Aceh dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat Aceh terhadap keputusan pemerintah menjadikan Aceh sebagai rumah di bawah Sumatera Utara.

Ketidakpuasan ini terkait dengan otonomi daerah, konflik antar kelompok, serta rehabilitasi dan modernisasi yang timpang di Asia. Pemberontakan itu ditandai dengan deklarasi Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Kartosuwirjo pada 20 September 1953.

Baca Juga  Botol Plastik Termasuk Bahan

Merajut Senja Di Panti Jompo

Pemerintah mengatasi pemberontakan tersebut secara damai, yaitu dengan mendidik masyarakat Aceh dan membujuk mereka untuk kembali ke RI. Konflik tersebut diselesaikan melalui pembicaraan pada tanggal 26 Mei 1959 antara pemerintah pusat yang diwakili oleh Wakil Perdana Menteri Hardi S.H. . / Pimpinan TII diwakili oleh Ayah Gani Usman.

Pembicaraan tersebut menghasilkan keputusan seperti pemberian status khusus di wilayah Aceh, seiring dengan otonomi luas di bidang pendidikan, agama dan urusan sipil. Hasilnya kemudian disampaikan melalui Surat Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia I/Missi/1959 tanggal 26 Mei 1959, dilanjutkan dengan keputusan Panglima Perang tanggal 7 April 1962 No.KPTS/PEPERDA-061./3/ 1962 Tentang pengamalan ajaran Islam bagi pemeluknya di kawasan Asean.

Sedangkan untuk menyikapi persoalan Daud Beureuh, diselenggarakan Konferensi Kerukunan Aceh pada 17-21 Desember 1962. Pangdam I/Iskandar Muda Kolonel M. Jasin memprakarsai pertemuan tersebut.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, diambil keputusan untuk mengampuni Daud Beureuh jika bersedia menyerahkan diri dan kembali kepada rakyat Aceh.

Jelaskan Latar Belakang Pemberontakan Di Atau Tii Dan Rms Di Indonesia, Materi Mapel Pkn Tema Pembelaan Negara

Latar belakang terjadinya pemberontakan di tii di jawa barat, latar belakang pemberontakan di tii, pemberontakan di tii jawa tengah, sejarah pemberontakan di tii, latar belakang pemberontakan pki madiun, latar belakang pemberontakan andi azis, latar belakang pemberontakan rms, pemberontakan di tii jawa barat, pemberontakan di tii aceh, pemberontakan di tii di indonesia, latar belakang terjadinya pemberontakan pki madiun, latar belakang pemberontakan di tii di jawa tengah