Opini

Jelang Libur Panjang

PENANGANAN Covid-19 di Kota Madiun sudah cukup baik. Penularan semakin kita tekan dan yang sakit satu per satu sembuh. Setidaknya, tidak ada konfirmasi baru dalam empat hari terakhir. Sebaliknya, yang sembuh terus bertambah. Hingga Minggu kemarin (25/10) terdapat 138 yang sembuh. Kasus konfirmasi aktif di kota kita tinggal enam orang. Setidaknya hingga Minggu kemarin.

Kota Madiun ada di posisi ke-37 dari 38 kota/kabupaten di Jawa Timur. Dua terendah daerah dengan kasus konfirmasi paling sedikit di Jatim. Bahkan, kalau dibanding wilayah kota, kita di urutan paling bawah. Ini kenapa saya sebut penanganan Covid-19 di kota kita sudah cukup baik. Namun, tren positif ini harus terus dijaga, dipertahankan, dan ditingkatkan. Kita tidak boleh terlena. Saya ingin masyarakat terus waspada.

Ini penting karena kita akan menghadapi libur panjang dalam minggu ini. Ya, pemerintah telah menetapkan tanggal 28 dan 30 Oktober cuti bersama. Artinya, ada lima hari libur jika ditambah dengan akhir pekan. Libur dimulai Rabu, 28 Oktober, hingga Minggu, 1 November. Saya ingin masyarakat belajar dari pengalaman sebelumnya. Saat kota kita berstatus zona hijau. Masyarakat terlena. Bepergian dengan leluasa. Hasilnya, kasus konfirmasi bertambah signifikan. Setidaknya ada 55 kasus sepanjang September lalu. Namun, hanya 17 kasus di Oktober hingga Minggu kemarin.

Saya tidak ingin ada lonjakan kasus lagi di November nanti atau pascalibur panjang ini. Bepergian ke luar kota memang tidak dilarang. Tapi, saya imbau ke luar kota hanya saat urusan mendesak. Ingat, banyak kasus yang berangkat dari riwayat perjalanan ke luar kota. Kalau tetap ingin berlibur ke luar kota, saya berharap masyarakat selektif. Pilih kota dengan tren kasus Covid-19 yang tidak besar. Sejujurnya saya lebih senang masyarakat berlibur di dalam kota saja. Sudah ada tempat-tempat menarik di kota kita.

Menarik karena sudah terbukti banyak yang mau datang. Saya masih ingat weekend minggu kemarin. Jalan Pahlawan macet parah. Antrean kendaraan sampai di perlintasan rel kereta api depan Polres Madiun Kota. Mereka mengantre masuk Pahlawan Street Center. Langsung saya instruksikan OPD turun ke lapangan. Dinas perhubungan dan satpol PP turut mengatur kendaraan. Dinas kominfo saya minta untuk memberikan imbauan.

Ledakan jumlah pengunjung sudah saya prediksi sebelumnya. Masyarakat sudah menahan diri sejak awal pandemi. Saat era adaptasi kebiasaan baru dimulai, masyarakat perlahan mulai berani ke luar rumah. Namun, masih sebagian kala itu. Kondisi berbeda sekarang. Masyarakat sudah mulai terbiasa dengan kenormalan baru ini. Sudah tidak takut lagi. Kesadaran dalam penerapan protokol kesehatan juga cukup tinggi. Terbukti, adanya lonjakan pengunjung yang masuk kota kita.

Saya tidak ingin antrean panjang kendaraan itu terulang. Rekayasa lalu lintas dijalankan. Jalan Ahmad Yani menjadi dua arah kini. Pemberlakuan mulai Sabtu sore lalu. Pengendara dari utara bisa berbelok ke kanan menuju Jalan A. Yani saat di simpang tiga Patung Pecel. Artinya, tidak harus lurus ke Jalan Pahlawan depan Balai Kota. Jalan Pahlawan sudah terlalu padat. Selain itu, Jalan Pahlawan memang dikonsep untuk wisata keluarga, lansia, hingga disabilitas. Kendaraan yang melintas harusnya dikurangi dan jalannya juga harus pelan.

Skema pengalihan arus ini untuk mengurai kendaraan di Jalan Pahlawan. Terutama menjelang libur panjang ini. Saya prediksi akan ada banyak pengunjung yang masuk. Memang tidak saya larang. Silakan ke Kota Madiun. Silakan belanja. Tapi ingat, ada aturan main yang harus dipatuhi. Protokol kesehatan tidak boleh ditinggalkan. Masker tidak boleh sekadar pajangan. Mereka yang melanggar akan saya tindak. Selama libur panjang ini akan ada pengetatan dan penjagaan di titik-titik vital. Saya sudah mengukur kekuatan personel yang ada. Baik dari satpol PP, kepolisian, hingga TNI. Begitu juga tim Pendekar Waras.

Petugas akan berjaga mengamankan kota. Baik dari ancaman Covid-19 hingga kriminalitas. Masyarakat boleh berlibur di Kota Madiun. Tapi ingat, akan selalu ada petugas yang berjaga. Saya ingin masyarakat tidak hanya patuh di saat ada petugas. Namun, protokol kesehatan sudah menjadi budaya. Masyarakat sudah sadar tanpa diingatkan. Masyarakat saya minta tidak egois. Protokol kesehatan tidak hanya melindungi diri sendiri. Tapi juga melindungi orang lain. Mematuhi protokol kesehatan berarti peduli dengan sesama.

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button