Ponorogo

Jejak Religi Pusat Pemerintahan Kota Lama

Jika ingin belajar sejarah pemerintahan Ponorogo tempo dulu, singgahlah ke Masjid Jami’ Kauman Kota Lama. Rumah ibadah di Kelurahan Patihan Wetan, Babadan itu berdiri sejak era pemerintahan Adipati Sepuh, keturunan ketujuh Batoro Katong.

——————–

NUR WACHID, Ponorogo

SEBONGKAH batu tetap berconggol di pelataran masjid di Kota Lama itu. Bentuknya persegi panjang, permukaannya datar selebar tangan tangan orang dewasa. Pahatan huruf palawa di sampingnya tak ada yang bisa mengartikannya. Konon, batu itu merupakan tempat salatnya Adipati Sepuh.

16 tiang kayu jati di dalam masih kokoh berdiri. Permukaannya yang kasar menegaskan pembuatannya ditatah secara manual. Penyangga cungkup masjid yang berbentuk segi empat —gaya Jawa Tengahan, itu tentu sudah berusia ratusan tahun. ‘’Sampai kini tiangnya masih asli, tak pernah diganti,’’ tutur Gus Fathurrohman Effendi, Pengasuh Ponpes Mambaul Hikmah.

Masjid ini merupakan bagian dari jantung pemerintahan Adipati Sepuh. Sebelumnya, masjid berada di kompleks makam Adipati Batoro Katong. Saat pemerintah dipimpin Adipati Sepuh, pusat pemerintahan dipindahkan sekitar 500 meter ke arah barat. Namun masjid tidak ikut dipindah. ‘’Adipati Sepuh membangun lagi masjid, ya masjid ini,’’ tegasnya seraya menyebut masjid lama di makam Batoro Katong itu sudah dipugar total.

Masjid yang didirikan di atas tanah seukuran 650-an meter itu berada di barat Alon-Alon. Konsep pemerintahan dari peninggalan Mataram tempo dulu yang terus digunakan di setiap daerah. Dulu, alon-alon berada di timur gapura masjid hingga komplek makam Adipati Batoro Katong. Masjid tersebut digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan. Selain menjadi pusat pemerintahan yang pendapanya di utara masjid. Sebenarnya, masjid pernah berganti nama Al Islam. Namun, berujung protes warga. Akhirnya namanya dikembalikan seperti semula. Sebab, masjid tersebut merupakan bagian dari pusat pemerintahan tempo dulu. Sebelum, pusat pemerintahannya bergeser ke Kota Tengah. ‘’Kontruksi bangunan masih kami jaga keasliannya, meskipun sudah ada beberapa renovasi,’’ ungkapnya.

Masjid ini pernah dipugar sekitar 1965. Tanpa mengubah bagian inti dari kontruksi. Pemugaran hanya menyasar dinding dan lantai. Dinding yang awalnya setebal satu meter itu ditipiskan menjadi 30 sentimeter. Dinding tebal juga merupakan khas bangunan era pemerintahan tempo dulu. Sedangkan lantai masjid kini sudah keramik. ‘’Masjid ini menjadi saksi memoar pemerintahan tempo dulu,’’ ucapnya. *** (fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close