Ponorogo

Jejak Peninggalan Kiai Ageng Umar Shodiq

Masjid Kiai Ageng Umar Shodiq di Kanten, Babadan tersambung benang merah dengan Masjid Majasem, Tegalsari, dan Bupati Caruban Kiai Anom Besari. Ada beberapa versi sejarah yang mengulas silsilah Kiai Ageng Umar Shodiq.

———————————

NUR WACHID, Ponorogo

MASJID di utara perempatan jalan desa itu sudah direnovasi beberapa kali. Tetapi, konstruksi bagian dalam tetap dipertahankan. Bergaya khas Jawatengahan seperti bangunan Masjid Kudus. Empat tiang utama penyangga atapnya masih kokoh sejak dulu. Teksturnya yang mulai usang dilapisi triplek. Serambi dibangun modern dengan cor beton. Di pojok utaranya dilengkapi etalase buku-buku yang dapat dibaca kapan saja. Di selatan terdapat kentongan lengkap dengan bedug. Konon, kentongan itu terbuat dari pohon cabai. Sampai kini pun masih difungsikan sebagai penanda adzan. ‘’Begitu cerita yang yang diturunkan secara turun-temurun,’’ kata Ispani Wiyono, 70, ketua takmir sekaligus generasi ke enam Kiai Ageng Umar Shodiq.

Warga pun menyakini masjid ini telah berdiri sejak ratusan tahun silam. Ispani ingat betul, ketika masih tertera tulisan di makam Kiai Ageng Umar Shodiq. Di sana tercantum tahun 1694 —menunjukkan tahun wafatnya ulama pendiri masjid tersebut. Adapun, tulisan yang sempat tercantum di masjid sebelum pemugaran menyebut tahun 1681. ‘’Tulisan itu sekarang sudah memudar dan hilang. Dulu masih tertera jelas di batu nisan dan masjid,’’ lanjutnya.

Kini, tidak ada penanda yang dapat menjadi bukti sejarah tentang keberadaan masjid kuno tersebut. Dulu, bangunan masjid sederhana. Tidak sebesar dan semegah sekarang. ‘’Sejak dulu, masjid ini digunakan sembahyang, pendidikan dan menyelesaikan masalah rakyat,’’ ungkapnya.

Sejak Ispani dipercaya mengurus masjid, bangunannya telah dipugar dua kali. Pemugaran pertama sekitar 1970-an. Bangunan masjid di tinggikan dan dilebarkan. Termasuk membangun serambi masjid. Sekitar 1994, masjid kembali dipugar dengan melebarkan bentuk bangunan. Sekaligus menambah bagian balok cor bagian selatan. Serambi masjid juga diubah berbahan cor dengan bentuk melengkung di bagian depan. Pelapisan triplek pada tiang utama juga dilakukan pada pemugaran kali terakhir itu. ‘’Masjid ini memiliki keterkaitan sejarah dengan Masjid Majasem, Madusari, Siman. Juga, Masjid Tegalsari hingga Bupati Caruban Kiai Anom Besari,’’ *** (bersambung/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button