Ponorogo

Jamin Boyongan ke Pasar Legi Gratis

Disperdakum Pastikan Tak Bebani Pedagang

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Kabar tak sedap mengiringi pembangunan megaproyek Pasar Legi Ponorogo. Belakangan, berembus isu boyongan ke Pasar Legi bakal berbayar. Pemkab pun buru-buru menepisnya. ‘’Itu sama sekali tidak benar,’’ kata Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperdakum) Ponorogo  Addin Andhanawarih Minggu (15/11).

Pejabat perempuan itu tak tahu-menahu dari mana isu berembus. Menurutnya, isu tersebut tak berdasar. Bahkan, dia memastikan kelak boyongan ke Pasar Legi gratis. ‘’Tidak ada biaya yang akan dibebankan kepada pedagang ketika masuk ke Pasar Legi,’’ tegasnya.

Addin menekankan, kebijakan pemkab tidak berubah. Pasar Legi akan diprioritaskan untuk para pedagang lama yang kini menempati Pasar Relokasi. Yakni, pedagang dari Pasar Legi, eks pengadilan, eks stasiun, dan Pasar Legi Selatan (Pasar Lanang). ‘’Jumlah yang telah terdata sekitar 4.000 pedagang,’’ sebutnya.

Jumlah itu sesuai proyeksi daya tampung Pasar Legi. Empat lantai akan difungsikan semua. Lantai satu untuk pedagang sayur, ikan, daging, pertokoan, dan perbankan. Lantai dua untuk pedagang sembako, buah, dan gerabah. Lantai tiga untuk pedagang kain, sepatu, dan barang elektronik. Sedangkan lantai empat untuk pedagang pakaian dan food court.

Pemkab juga akan memberi ruang bagi pedagang baru. Yakni, pedagang sayur-mayur dari Pudak. Mereka akan ditempatkan di los. Saat ini progres pembangunan Pasar Legi sudah memasuki tahap finishing untuk interior dan eksterior pasar.

Diperkirakan megaproyek senilai Rp 133 miliar itu selesai Februari 2021. Awal tahun depan, pelaksana proyek tinggal menuntaskan pekerjaan mekanikal elektrikal (ME). ‘’Pedagang tidak perlu risau. Ditambah dibentuknya Perusahaan Daerah (Perusda) Pasar, nantinya pengelolaan pasar akan lebih profesional,’’ klaim Addin. (naz/c1/sat)

Pedagang Pegang Janji Pemkab

HARAPAN para pedagang digantungkan ke Pasar Legi. Kelak, jika sudah jadi, mereka berangan mampu menggairahkan kembali aktivitas jual-beli seperti sediakala. Mereka juga berharap boyongan tidak ditarik biaya. ‘’Seharusnya gratis,’’ kata Sukeri, pedagang ikan asin di Pasar Relokasi.

Sukeri menahun buka lapak di Pasar Legi. Usai terbakar, dia bersama ribuan pedagang lain dipindahkan ke Pasar Relokasi. ‘’Melihat bangunannya yang sudah hampir jadi, rasanya senang. Terserah pembagian lapaknya, tapi harapannya gratis,’’ tuturnya.

Endang, pedagang di Pasar Relokasi lainnya, ingin segera kembali berjualan di pasar tradisional terbesar di Ponorogo itu. Maklum, dia sudah berdagang di Pasar Legi sejak lulus sekolah 1990-an lalu. ‘’Dua kali boyongan karena kebakaran, saya merasakan,’’ kenang perempuan paro baya ini.

Dia berharap kelak mendapat tempat layak ketika kembali ke Pasar Legi. Setidaknya, luasnya tidak beda dengan yang dulu. Endang yakin perekonomian akan membaik jika kembali. ‘’Ibarat tanah, pedagang lama seperti saya sudah punya sertifikatnya. Jadi, ketika kembali harus gratis,’’ ujarnya.

Pedagang pasar eks stasiun juga berharap difasilitasi tempat berjualan seperti janji pemkab. Mereka mengapresiasi upaya pemkab membangun kembali Pasar Legi. ‘’Ini akan jadi pasar terbesar di eks Karesidenan Madiun. Semoga jadi daya tarik bagi masyarakat untuk berbelanja ke Pasar Legi,’’ kata Agung Budi Prayitno, koordinator pedagang pasar eks stasiun.

Budi berharap pemkab tidak memungut biaya kepada para pedagang lama dan pedagang lain yang dijanjikan masuk ke Pasar Legi. Dia juga berharap mendapat tempat yang laik. Jangan sampai pedagang nanti kebingungan menggelar dagangan. ‘’Kami yakin boyongan nanti pasti digratiskan dari biaya apa pun,’’ tuturnya. (naz/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button