Bupati Menulis

Jalur Pedestrian Kita

Jalur pedestrian atau kalau di Indonesia sering disebut trotoar, diberbagai kota utamanya di luar negeri sangat mendapat tempat. Malahan kalau kita mengunjungi kota yang sudah maju, yang pertama mendapat prioritas adalah pejalan kaki. Artinya jalur pedestrian pasti dibangun sangat memadai. Baru urutan selanjutnya kemudian orang bersepeda. Dan yang terakhir orang yang berkendaraan motor. Baik motor roda dua maupun roda empat.

Namun kondisi ini berbanding terbalik kebanyakan kota-kota di Indonesia. Termasuk tentunya di Kota Magetan. Jalur pedestrian justru belum mendapat tempat yang semestinya. Kalau pun ada, sangat tidak ramah bagi pejalan kaki. Bandingkan dengan kondisi jalur pedestrian di negara yang sudah maju. Jalur pedestrian mendapat perhatian yang utama tadi.

Malahan saya dibuat terkejut, ketika di suatu pagi hari, di kota dari sebuah negara maju,   kota masih tidur. Penduduk kota belum beranjak dari tempat tidurnya. Kejadian itu pada tahun 2007. Dan ketika itu, koran pagi masih ditunggu pembaca setianya. Aplikasi semacam WA maupun medsos belum ada. Seorang difabel dengan mengendarai kursi listrik mengantarkan koran dari pintu ke pintu pelanggan.

Karena jalur pedestrian sangat ramah bagi siapa saja, seorang difabel bisa berdaya dengan kemampuannya dapat bekerja dengan mengantarkan koran dengan kursi listrik tadi. Betapa mulianya kehidupan bersama itu. Baik yang ditakdirkan oleh Tuhan diberikan organ yang lengkap dan berfungsi sempurna maupun dengan yang terbatas.

Dan saya yakin, hak-hak setiap orang sangat dilindungi oleh pemerintah di negara yang sudah maju tersebut. Sudah barang tentu juga pemerintah daerahnya. Malahan logika mereka dibalik. Tidak seperti kita. Jalur trotoar sangat diperluas dan pejalan kaki dan jalur sepeda atau kendaraan tidak bermotor sangat dimanjakan. Sebaliknya kendaraan bermotor sangat diatur sedemikian rupa, sehingga tidak kemudian berjalan dengan cepatnya di dalam kota.

Sebaliknya transportasi publik, baik trem listrik, bis, kereta bawah tanah diperbaiki. Akhirnya penduduk kota maupun pendatang, baik turis maupun yang dari luar kota lebih nyaman naik kendaraan umum tadi. Selain lebih murah, semua daerah tujuan hampir semua bisa terlayani oleh transportasi publik tadi.

Kebetulan saya sudah mengunjungi berbagai negara dan kota-kota, baik di negera yang sudah maju maupun yang belum. Sehingga sedikit banyak bisa membandingkan. Yang jelas membuat iri saya. Betapa hak setiap orang sangat dilundungi. Apalagi untuk kepentingan bersama. Kepentingan umum sangat mendapat tempat.

Termasuk jalur pedestrian tadi. Sehingga pagi itu saya memergoki seorang difabel bisa tetap berdaya bekerja untuk hak hidup dan berkembang. Biasa, dimanapun saya berkunjung di suatu tempat selalu ada rasa ingin tahu. Seperti keingintahuan saya pagi itu. Ketika hari masih pagi buta, di musim panas, saya sudah siap dengan pakaian olahraga kemudian jogging disekitar blok hotel, tempat saya menginap. Selain menjaga kesehatan dengan olah raga rutin, dimanapun berada juga salah tujuan lainnya sambil melihat realitas kehidupan sebuah kota.

Kalau saya tidak bangun pagi, dan mempunyai kebiasaan seperti jogging tersebut tentu saya tidak pernah punya pengalaman dan menyaksikan kejadian difabel mengantarkan koran tadi. Pengalaman yang membekas di alam bawah sadar saya tersebut, tentu sangat mempengaruhi cara berpikir dan dalam cara membuat kebijakan ketika saya dipercaya membuat kebijakan.

Dan kebetulan, saat ini saya diberikan lagi kepercayaan untuk membuat kebijakan. Dimana-mana saya sering mengatakan kepada seluruh pejabat di Kabuaten Magetan, ketika kita diberikan takdir Tuhan untuk membuat kebijakan, mari gunakan itu untuk kepentingan bagi kebaikan masyarakat luas. Tentu, agar suatu saat kelak, kita semua sudah tidak menjabat ada perasaan tidak bersalah. Karena sudah menjalankan kewajiban yang diembannya sesuai yang diharapkan masyarakat. Betapa indahnya kalau semua berlomba berlomba-lomba berbuat demikian.

Demikian juga saya pribadi, akan terus berusaha untuk berbuat demikian. Bagaimana membuat kebijakan yang berguna untuk masyarakat banyak. Salah satunya seperti topik dalam tulisan hari ini yaitu membuat jalur pedestrian atau trotoar yang sangat ramah bagi siapa saja termasuk difabel tadi.

Bayangkan, ketika saya mencoba berjalan di kota Magetan, yang namanya jalur pedestrian selain sempit (malah ada yang hanya sekitar setengah meter), bergelombang mengikuti pintunya setiap rumah. Kalau tidak demikian, posisi miring atau dimakan oleh jalan masuk bangunan di depannya. Yang dimanjakan hanya jalan bagi kendaraan bermotor. Bukan salah, tapi sudah semestinya semua orang mempunyai hak yang sama. Malahan yang paling lemah harus mendapat perlindungan.

Melihat realitas demikian, kemudian saya mencoba untuk mencari model bagaimana membuat jalur pedestrian yang mendekati ramah bagi siapa saja. Tentu saya kemudian berdiskusi dengan beberapa OPD yang tugas fungsinya terkait seperti dinas PUPR, dinas Perkim dsb.

Kemudian dicoba tahun yang lalu, dibuat jalur pedestrian sepanjang seratus meter. Dengan konsep batas antara jalan dan jalur pedestrian tidak tegak tapi miring. Sehingga seperti difabel dengan kursi roda bisa naik jalur pedestrian. Demikian juga bahan, tidak memakai lantai keramik. Akan tetapi memakai beton yang tebal. Sehingga, “life time” atau masa pakai akan lebih lama. Itulah yang akan menjadi model jalur pedestrian nantinya. Betapa indahnya kalau itu terjadi dan dapat direalisasikan.

Model jalur pedestrian yang terletak di sebelah Utara Pasar Baru tersebut ternyata hampir semua memandang sangat positip. Oleh sebab itu, kemudian dicoba di jalan Yos Sudarso sisi yang sebelah Barat. Memanjang ke arah Utara. Dan juga diberi lampu hias model antik disisinya. Tahun depan rencananya akan dibuat jalur pedestrian pada sisi timur dengan lebar yang lebih dibandingkan yang lama. Malahan rencananya lebarnya sekitar tujuh meter. Namun jangan bandingkan kualitasnya dengan DKI misalnya. Ya mesti jauh berbeda karena anggaran sangat terbatas.

Harapannya, kelak pejalan kaki mempunyai hak yang sama dengan yang lain. Nyaman bagi yang berjalan. Dan bila lelah bisa duduk di tempat duduk yang nantinya akan disediakan disepanjang jalur pedestrian tersebut. Tentu lebar jalan kendaraan akan terkurangi. Salah satu pertimbangannya jalan tersebut satu jalur. Seperti di negara sudah maju bukankah jalan di dalam kota kendaraan harusnya kecepatannya dibatasi.

Malahan di kota London, di jalan tertentu sekarang ini tidak boleh lagi dilewati kendaraan berbahan bakar yang tidak ramah lingkungan. Hanya boleh dilewati kendaraan seperti sepeda atau kendaraan listrik. Itulah bila semua warga kota sudah menyadari betapa kenyamanan untuk semua harus diciptakan dalam rangka hidup bersama.

Kita harus berpikir dan bertindak jauh kedepan. Dan tentu masyarakat harus disiapkan. Utamanya budaya memberi hak seperti jalur pedestrian mendapat tempat yang semestinya. Namun sayangnya, ketika beberapa ruas jalur pedestrian sudah kita bangun sesuai konsep yang saya utarakan tadi, masyarakat belum memakai jalur pedestrian tersebut pada fungsinya.

Saya mencoba memetakan beberapa penyimpangan penggunaan. Ada yang kemudian barang-barang jualan yang dulunya di dalam kemudian dikeluarkan memakan jalur pedestrian. Banyak juga yang digunakan untuk parkir sepeda motor. Malahan ada yang digunakan untuk parkir mobil segala.

Yang kemudian membuat saya lebih kaget lagi, ketika saya meminta kepada bagian Humas dan protokol untuk mengunggah foto-foto penggunaan jalur pedestrian tidak pada tempatnya tadi, berbagai komentar justru menyalahkan yang membuat. Karena batas jalan dan jalur pedestrian dibuat miring artinya berarti disediakan untuk kendaraan. Malah ada yang meminta dikembalikan seperti semula. Dan tentu komentar lainnya.

Sedih itu tentu. Namun saya sadar, perubahan budaya memang memerlukan waktu. Namun harus dimulai. Namun saya yakin, kita harus mulai dan sudah waktunya. Kota kita harus ramah bagi siapa saja. Termasuk Magetan. Betapa indahnya.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close