Madiun

Jalan Sunyi Tim Sterilisasi Covid-19 Kota Madiun

’’Lelah Sudah Pasti, kalau Bukan Kami Siapa Lagi’’

Tim Sterilisasi dan Pemakaman Covid-19 bekerja dalam sunyi. Pekerjaan yang dijalankan dekat dengan kematian. Tak jarang menerima cibiran. Namun, tugas kemanusiaan ini tetap dijalani setulus hati. Antar-rekan seperjuangan saling menguatkan.

ASEP SYAEFUL BACHRI, Jawa Pos Radar Madiun

SIANG itu, sekitar pukul 14.00, rombongan Yulius Victoria tiba di markas PMI Cabang Kota Madiun di Jalan Parikesit, Kartoharjo. Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (TGTPP) Covid-19 Kota Madiun itu baru saja selesai melakukan penyemprotan di rumah duka pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal dunia di Jalan Sikatan, Nambangan Lor, Manguharjo.

Begitu mobil pikap yang membawa cairan disinfektan itu terparkir, seluruh petugas disterilisasi di halaman. Mereka melepaskan hazmat yang dikenakan lalu bergegas masuk kamar mandi. Prosedur tetap (protap) itu dilakoni tim sterilisasi setiap hari. ”Tentu waswas karena kami juga punya keluarga di rumah,’’ kata Kasi Pelayanan PMI Kota Madiun Yulius Victoria.

Dalam setiap tugasnya, tim ini berisiko tertulari. Baik saat memakamkan pasien meninggal dunia maupun saat sterilisasi lingkungan rumah penderita setelahnya. Tak hanya di rumah pasien yang sudah terkonfirmasi positif, tim ini acap menyemproti rumah yang digunakan isolasi mandiri. ‘’Kalau dibilang lelah ya pasti lelah. Tapi tetap harus semangat. Kalau bukan kami, siapa lagi,’’ ujarnya.

Tim ini selalu memotivasi diri agar senantiasa menjalani tugas bahaya dengan bahagia. Walaupun mereka kerap mendapat cibiran dari masyarakat. Ada yang merasa kurang nyaman saat disemprot cairan. ‘’Kok disemprot lagi,’’ ucap Yulius menirukan warga yang protes.

Penyemprotan disinfektan tak semudah bayangan. Kali pertama, tim harus mengisi air terlebih dahulu di markas pemadam kebakaran di Jalan Mayjend Sungkono atau PDAM Kota Madiun. Setelah itu baru mencampurnya dengan cairan antiseptik dan disinfektan. Dalam melakukan penyemprotan pun mereka harus menggunakan APD lengkap. ‘’Nyemprot pakai hazmat itu panas, apalagi dipakai pas pemakaman. Harus pakai masker berlapis, masker medis dan N-95. Napas dan minumnya susah. Padahal sering dehidrasi,’’ ungkapnya.

Saat melakukan pemakaman juga harus persiapan matang. Hazmat yang dikenakan harus dilakban agar tidak ada kebocoran. Tim ini juga harus sabar dan hati-hati karena proses pemakaman membutuhkan waktu cukup lama. Tak hanya itu, proses pemakaman sering kali menemui kendala karena harus berhadapan dengan medan tanah yang terkadang becek. ‘’Napasnya sulit dan kerjanya cukup berat. Kalau ada tim yang tidak kuat langsung mundur ke tempat sterilisasi. Ganti personel cadangan,’’ terang Yulius.

Untuk menghibur diri, biasanya petugas saling bercanda. Seperti harus mengatakan kata mbek untuk memohon digantikan karena tidak kuat pakai hazmat. Guyonan seperti itu membuat lelah dan panas yang dirasakan sedikit terobati. ‘’Proses pemakaman itu lama, bisa sampai 4-5 jam,’’ jelasnya.

Dengan tugas seberat itu, tim ini berharap masyarakat benar-benar menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Karena mereka sendiri melakukan tugas kemanusiaan ini secara gratis, baik saat penyemprotan maupun pemakaman. ‘’Banyak kabar yang beredar pemakaman itu dapat bayaran tinggi. Padahal kami tidak menerima sepeser pun. Pelayanan kita gratis,’’ pungkasnya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close