Ngawi

Jalan Hidup Widodo, Guru yang Juga Pengasuh Panti Asuhan

NGAWI – Butuh ikhlas lebih untuk menjadi seorang pengasuh di panti asuhan. Apalagi, yang kesehariannya mesti mendampingi anak-anak bernasib kurang beruntung. Itu pula yang dirasakan Widodo, pengasuh Panti Asuhan Muhammadiyah Ngawi.

Panti asuhan Muhammadiyah di Jalan Ketonggo III, Kelurahan Ketanggi, Ngawi, itu tampak asri. Gedungnya yang bercat hijau berdampingan dengan musala kelir sama. Semilir angin bawah pohon mangga di halaman gedung menemani sejumlah anak yang sedang bercengkrama dari dalam ruangan.

Sesekali, satu-dua di antara remaja berkopiah dan bersarung itu seliweran keluar- masuk. Beberapa saat berselang, Widodo datang dengan mengendarai motor bebek. ‘’Baru pulang dari sekolah,’’ ujar Widodo setelah melepas helmnya.

Delapan tahun sudah Widodo menjadi pengasuh Panti Asuhan Muhammadiyah Ngawi. Selama itu pula beragam cerita mewarnai amanah yang diembannya. Mulai istri yang mulanya tidak menyetujui menjadi seorang pengasuh panti sampai berupa-rupa karakter puluhan anak asuh. ‘’Awal 2011 saya dipercaya menggantikan pengasuh sebelumnya yang mengundurkan diri,’’ ungkapnya.

Selain menjadi pengasuh panti asuhan, Widodo tercatat sebagai humas SMKN 1 Kasreman. Kendati demikian, dia tidak mempersoalkan status pegawai negeri sipil (PNS) dalam menjalani kesehariannya di panti. Sebanyak 40 santri mukim dan lima santri non-mukim ibarat sudah dianggap sebagai anak kandungnya. ‘’Alhamdulillah, mendapat kesempatan berkumpul dengan anak-anak,’’ ujarnya.

Widodo bersama istrinya tinggal di kompleks panti asuhan. Sisa waktu di luar tanggung jawabnya sebagai guru, dia dedikasikan untuk puluhan anak yatim piatu yang juga santri tersebut.

Ya, kegiatan keagamaan menjadi agenda rutin saban hari di panti asuhan. Pernik seputar agama Islam ditularkan Widodo kepada anak asuhnya. ‘’Selain karena amanah dari pimpinan, saya dulu juga besar di sini. Tepatnya sebelum panti asuhan diresmikan pada 2003 lalu,’’ ujarnya sembari menyebut panti asuhan itu dulunya bernama Balai Muhammadiyah.

Puluhan anak asuh memiliki kisah dan latar belakang yang berbeda satu sama lain. Mulai anak jalanan bergaya punk sampai mereka yang mendapat perlakuan tidak layak dari keluarganya. Kondisi itu dianggap Widodo sebagai tantangan. Dia terus mencari cara bagaimana membimbing dan mengasuh agar mereka lepas dari masa lalu yang jauh dari kata bahagia itu. ‘’Saya upayakan untuk tidak menekan anak-anak dan menggali potensi masing-masing,’’ tuturnya.

‘’Saya akan bunuh bapak saya kalau ketemu nanti’’. Kalimat mencekam itu sempat dia dengar dari mulut seorang anak asuh saat kali pertama datang ke panti asuhan. Widodo mengelus dada kali mengenang kejadian tiga tahun silam tersebut.

Widodo ingat betul pandangan kosong saat kali pertama salah seorang anak asuh tersebut diajak bertegur sapa. Dia lantas menelusuri apa permasalahannya. ‘’Dia depresi, ibunya, maaf, bunuh diri karena sering bertengkar. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri,’’ paparnya.

Ada pula seorang santri yang berontak saat hendak diambil pihak keluarga. Itu lantaran perlakuan kasar yang diterima santri tersebut dari familinya. Malahan, adik kandungnya juga menyusul ke panti asuhan lantaran tidak kuat mendapat perlakuan yang sama. ‘’Sedih rasanya,’’ ujar Widodo.

Namun, semringah kini kerap tergurat di wajahnya. Hal itu tidak terlepas dari sejumlah prestasi anak asuhnya. Mulai yang menjadi bintang kelas di sekolahnya sampai atlet silat.

Trenyuh acap menjalari perasaan Widodo saat momen-momen tertentu. Misalnya ketika Lebaran. Dia sering mendapati beberapa anak asuh termenung. Widodo paham perasaan anak yang tidak mengenal sungkem atau sekadar berjabat tangan dengan ayah-ibu di Hari Raya Idul Fitri itu. ‘’Saya ajak saja mereka berkegiatan seperti beternak kelinci atau memelihara burung, agar keslimur’’ ujarnya.

Jauh sebelum berkecimpung dengan puluhan anak asuhnya, tantangan yang mesti dihadapinya lebih dulu datang dari Eny Setyowati istrinya. Eny sempat bergeleng Widodo bercerita hendak dipercaya sebagai pengasuh panti asuhan. Bahkan, keduanya sempat berpisah sekitar empat hari sebelum akhirnya mau berdampingan kembali. ‘’Saya beri penjelasan dan penjelasan, akhirnya istri saya minta dijemput dari rumah orang tuanya,’’ kenangnya.

Sejak itu, hari-hari sejoli tersebut tidak lepas dari puluhan anak bernasib kurang beruntung di panti asuhan. Berbagi tugas, istri Widodo mendapat jatah menyiapkan makan siang. Sementara, sarapan dan makan malam, Widodo membagi anak asuhnya menjadi beberapa kelompok untuk memasak. Itu bertujuan untuk kemandirian anak-anak asuhnya yang kini mayoritas berusia SMP hingga SMA tersebut. ‘’Mereka sudah saya anggap anak sendiri, makanan yang kami makan sama,’’ ungkapnya. ***(deni kurniawan/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button