Madiun

Jaksa Tuntut Hukuman Penjara 20 Tahun, Duo Ratu SS Lolos dari Maut

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Duo ratu sabu-sabu (SS) lolos dari maut. Itu setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Madiun menuntut Siti Artiyasari, 38, dan Natasya Harsono, 23, dua terdakwa perkara kepemilikan SS seberat empat kilogram, itu dengan hukuman penjara masing-masing 20 tahun. Sejatinya, ancaman pidana maksimal perkara ini adalah hukuman mati.

Meski begitu, dalam sidang kelima di pengadilan negeri (PN) setempat Rabu (2/10), Siti dan Natasya tetap terlihat shock mendengar tuntutan tersebut. Kedua mata mereka memerah kala meninggalkan ruang sidang Cakra. Keduanya bungkam saat ditanya tanggapan ihwal tuntutan tersebut. ‘’Tuntutan ini sudah melalui berbagai pertimbangan,’’ kata Irwan Syafari, salah seorang JPU, usai sidang.

Pokok tuntutan dibacakan lima menit oleh Nur Amin, JPU lainnya. JPU menuntut Siti dan Natasya dengan hukuman pidana penjara 20 tahun dikurangi masa penahanan. Serta denda Rp 1 miliar. Yang membedakan adalah subsidernya. Siti dituntut hukuman tambahan penjara 1,5 tahun apabila tidak bisa membayar denda itu. Sedangkan Natasya satu tahun.

Tuntutan mengacu pelaksanaan sidang sejak digelar akhir Agustus lalu. Yakni, dakwaan, fakta persidangan dari keterangan empat saksi, dan keterangan dua terdakwa. JPU menyimpulkan Siti dan Natasya sah dan meyakinkan melakukan permufakatan jahat. Melanggar pasal 114 ayat 2 jo pasal 132 Undang-Undang (UU) 35/2009 tentang Narkotika.

Irwan menjelaskan, subsider Natasya lebih rendah karena bukan pelaku utama. Perempuan kelahiran Surabaya itu sekadar diajak dalam perkara ini. Sedangkan Siti punya peran lebih dominan sebagai kurir. Menerima pekerjaan mengambil empat paket SS di Pekanbaru, Riau. Sebelum dikirim ke Kabupaten Madiun menggunakan jasa pengiriman. ‘’Selebihnya tuntutan sama,’’ ujar kasi perdata dan tata negara (datun) Kejari Kabupaten Madiun itu.

Selain fakta, JPU juga mempertimbangkan hal yang memberatkan bagi para terdakwa. Yakni, melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan narkotika golongan I.

Sedangkan hal meringankan adalah perbuatan menyesali dan bersikap sopan selama persidangan. Juga meminta petunjuk pimpinan. ‘’Kami berkoordinasi dengan kejati (kejaksaan tinggi, Red),’’ imbuh Irwan.

Setelah tujuh menit persidangan, Ketua Majelis Hakim PN Kabupaten Madiun Teguh Harissa langsung menyampaikan agenda sidang selanjutnya. Terdakwa diberi kesempatan pembelaan terhadap tuntutan JPU. ‘’Sidang dilanjutkan Rabu, 9 Oktober,’’ tutupnya. (cor/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close