HukumMadiun

Jaksa Cium Bau Anyir Hibah KONI

MADIUN – Ketua KONI Joko Susilo harus betah dengan suasana kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Madiun. Sesuai jadwal, hari ini (2/5) Joko kembali diperiksa korps Adhyaksa. Tim jaksa ingin melengkapi keterangan. Kejaksaan memang mencium bau anyir dugaan patgulipat dana hibah tahun 2015 dan 2017. ’’Sampai pukul 18.00 Senin lalu, itu belum tuntas. Kami masih akan panggil lagi, kemungkinan Rabu (hari ini, Red),’’ kata Kasi Pidsus Kejari I Ketut Suarbawa kemarin (1/5).

Senin lalu (30/4), jaksa sudah memeriksa Joko selama empat jam. Pria yang juga kepala SDN 5 Madiun Lor itu mulai diperiksa sejak pukul 11.00. Rupanya, pengelolaan dana hibah senilai Rp 2,5 miliar yang diterima KONI pada 2015 menjadi fokus pemeriksaan Senin lalu. ’’Belum menyentuh hibah di tahun 2017, karena keterbatasan waktu,’’ terangnya.

Pada 2015, Rp 1,9 miliar dari dana hibah digunakan KONI untuk membiayai persiapan dan pemberangkatan atlet 26 cabang olahraga (cabor) di Porprov 2015 Banyuwangi. Sisanya sempat diklaim Joko mayoritas digunakan untuk pembinaan di cabor. Pun, ada sisa senilai sekitar Rp 90 juta yang dikembalikan ke kas daerah. Adakah temuan penyelewengan? Ketut enggan membuka ada tidaknya dugaan tersebut. ’’Soal dugaan itu, kami tidak bisa berkomentar banyak karena belum dapat menyimpulkan,’’ kelitnya.

Hari ini, pihak kejaksaaan rencananya bakal kembali memanggil Joko guna mengklarifikasi penggunaan hibah senilai Rp 800 juta pada 2017 yang diterima KONI. Joko, menurut Ketut, menjadi sosok penting dalam pusaran pengelolaan dana hibah di KONI. Pasalnya, selaku ketua, Joko mustahil tidak tahu menahu terhadap pengusulan, penerimaan, hingga pengeluaran berbagai pos. Tidak hanya di KONI, namun juga saat didistribusikan ke 26 cabor. ’’Namanya komandan suatu lembaga pasti dia banyak tahu,’’ bebernya.

Selain Joko, dua bendahara KONI yakni Fitri dan Swastika juga belum tuntas menyampaikan keterangan terhadap pengelolaan dana hibah pada 2015 dan 2017. Kapan keduanya dipanggil lagi? Besar kemungkinan pihak kejaksaan akan memanggil kedua bendahara bersamaan dengan Joko hari ini untuk mempercepat proses penyelidikan. ’’Sampai saat ini (kemarin, Red) kami belum dapat menyimpulkan. Kalau memang sudah cukup bisa simpulkan ada pidana, kami akan segera naikkan tahap dari penyelidikan ke penyidikan,’’ kata Ketut.

Ketua KONI Kota Madiun Joko Susilo saat dikonfirmasi mengatakan telah menyampaikan berbagai keterangan yang dibutuhkan korps Adhyaksa. Dia membenarkan jika Senin lalu dirinya diperiksa jaksa fokus pada pengelolaan hibah pada 2015. Alur penerimaan, pengeluaran, termasuk penyaluran ke cabor, ditanyakan oleh jaksa. ’’Semua bukti-bukti seperti surat pertanggungjawaban (SPj) juga sudah disampaikan,’’ ujarnya.

Selama dicecar berbagai pertanyaan dari pukul 11.00 hingga 18.00, Joko mengaku tidak tahu menahu apa yang sedang dibidik oleh korps Adhyaksa. Pun, dia tidak mengetahui jika ada yang janggal dari pengelolaan hibah tahun 2015. Joko optimistis tidak ada kesalahan atau bahkan tindak pidana. Sementara hibah di tahun 2017 masih belum tuntas dia sampaikan penjelasannya. ’’Kemungkinan memang masih akan lanjut (klarifikasi terhadap dirinya), tapi belum tahu kapan. Semoga saja dugaan-dugaan itu tidak terbukti,’’ tandasnya.

Diketahui, pada 2015, dari Rp 2,5 miliar, sebanyak Rp 600 juta diklaim sempat didistribusikan Joko kepada 26 cabor sebagai dana kegiatan rutin. Meliputi kegiatan pembinaan terhadap para atlet. Besaran penerimaan bervariasi tergantung keaktifan dan prestasi cabor. Hanya, jumlah yang diterimakan per cabor rupanya tidak begitu besar. Maksimal hanya puluhan juta. Hanya PSSI yang diklaim Joko menerima lebih besar dibanding cabor lain, dengan alasan membina sepak bola dan futsal. Yakni, sekitar Rp 100 juta. (naz/c1/ota)

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button