Advertorial

Jaga Marwah Lumbung Padi, Optimalisasi Lahan Mati

NGAWIJawa Pos Radar Ngawi – Ngawi amanah mengemban marwah lumbung pangan di Jawa Timur bagian barat. Produksi padi berjalan stabil sepuluh tahun terakhir. Dinas Pertanian (Disperta) Ngawi konsisten mendorong peningkaan indeks pertanaman (IP) padi dan pemanfaatan lahan mati (sawah bera). ‘’Saat ini, IP padi mencapai 2,7 persen. Berkisar 270 dari 50.197 hektare total sawah di Ngawi,’’ kata Kepala Disperta Ngawi Marsudi.

Meski sebagian lahan produktif difungsikan perumahan, produktivitas padi tetap terjaga. Bahkan, luas tambah tanam (LTT) padi selalu meningkat dalam sepuluh tahun terakhir. Pada 2011 silam, sasaran LTT 116.004 hektare dengan target produksi 572.984 ton gabah kering giling (GKG). Pada 2020 kemarin, berkembang menjadi 143.306 hektare dengan target produksi 847.7576 ton GKG. ‘’Artinya, tak ada sawah bera atau lahan nganggur yang tidak ditanami padi di setiap tahunnya,’’ tegasnya.

Pada 2018 silam, kabupaten ini meraih penghargaan dari Kementerian Pertanian atas pencapaian luas tambah tanam padi. Setahun berikutnya, Ngawi masuk 10 besar produsen beras tertinggi. Di kancah nasional, kabupaten ini ranking enam setelah Indramayu, Karawang, Subang, Banyuasin, dan Lamongan. Di tingkat Jatim ranking 2. Naik dua peringkat dari sebelumnya ranking 4. ‘’Pemerintah selalu mengapresiasi petani yang berprestasi,’’ tutur Marsudi.

Berbagai capaian positif itu diraih berkat arahan Bupati Budi ”Kanang” Sulistyono. Pemkab intens mendukung penyediaan sarana-prasarana pertanian. Mulai irigasi sumur dangkal maupun sumur parit, dam parit, hingga pembangunan embung dan jalan usaha tani (JUT). Juga mendorong petani menggunakan varietas unggulan sesuai karakter lahan. Ada beberapa metode tanam yang ditawarkan. Meliputi tanam salibu (salin ibu), teknologi jajar legowo, SRI (system of rice intensification), dan tabela (tanam benih langsung). Juga, pengolahan tanah dengan memanfaatkan jerami dan dekomposer serta intermitten (sistem pengairan menggunakan tenggang waktu). ‘’Petani juga kami ajari cara pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu,’’ terang Marsudi.

Ada lima lawan yang dihadapi petani. Yakni, wereng batang cokelat (WBC), penggerek batang, xanthomonas, pyricularia, dan tikus. Cara pengendaliannya bisa dilakukan gropyokan, pemasangan umpan, fumigasi, mercon tikus, trap barrier system (TBS), juga menggunakan jebakan plastik atau seng. ‘’Membasmi hama bisa alami. Seperti memasang rumah singgah burung hantu dan menggalakkan pelarangan perburuan ular untuk menjaga populasi predator tikus,’’ urainya. (rio/c1/fin/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button