Madiun

Jaga Kurva Landai Korona, Puncak Pandemi Diperkirakan Juni

MADIUNJawa Pos Radar Madiun – Bundaran Taman Praja di Jalan Serayu Timur selalu menjadi pilihan favorit bagi warga Kota Madiun untuk ngabuburit. Menjelma pasar tumpah setiap Ramadan. Tak terkecuali di masa pandemi ini. Keramaian menjelang waktu berbuka tak jauh beda dari tahun-tahun sebelumnya. Kondisi itu menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat. Priyo, warga setempat, merasa prihatin ketika melihat keramaian seperti itu. ‘’Sepertinya ambyar begitu. Kan ini masih masa pandemi,’’ ujarnya.

Di sisi lain, bulan suci menjadi berkah tersendiri bagi pedagang untuk mengais rezeki. Penghasilan yang didapat selama Ramadan bisa dua kali lipat dari bulan-bulan biasanya. ‘’Harus tetap berjualan. Yang penting, saya mengikuti aturan. Tidak menyediakan tempat duduk dan pakai masker,’’ kata seorang pedagang yang enggan disebut namanya.

Alifia Saputri, remaja yang mencari takjil, menganggap Bundaran Taman cukup strategis. Di simpang jalan itu bisa dijumpai berbagai sajian kuliner untuk menu berbuka puasa. ‘’Di sini sajiannya lengkap dan murah. Saya belinya dibungkus kok, tidak dimakan di tempat,’’ kata Alifia.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Madiun Gaguk Hariyono menegaskan tidak ada larangan berjualan untuk pasar modern dan tradisional. Termasuk pedagang kaki lima (PKL) di Bundaran Taman Praja. Boleh jualan, asalkan mematuhi aturan. ‘’Tetap harus jaga jarak, menyediakan tempat cuci tangan, pakai masker, dan tidak menyediakan tempat duduk,’’ kata Gaguk.

Belakangan, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (TGTPP) Covid-19 Kota Madiun menggencarkan penertiban. Pasca seorang warga dinyatakan positif terinfeksi virus korona. Razia di tempat terbuka hingga mal sebatas menindak mereka yang tak mengindahkan physical distancing. ‘’Gubernur menginstruksikan seluruh daerah meningkatkan implementasi pembatasan sosial,’’ tegas Jubir TGTPP Kota Madiun Noor Aflah.

Instruksi itu disampaikan melalui video conference pukul 13.00 kemarin (10/5). Gubernur Khofifah Indar Parawansa juga memperkirakan puncak pandemi di Jawa Timur pada pertengahan Juni. ‘’Kami memang tidak melarang berjualan. Mohon semuanya mematuhi protokol pencegahan yang telah ditetapkan. Mohon pengertian masyarakat jangan sampai kurva meningkat dan perkiraan puncak pandemi mundur lagi,’’ pintanya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close