Madiun

Jadi Ketum PSTI, Hari Getol Tularkan Virus Keselamatan Berkendara

Hilangkan Stereotipe Negatif Sopir Truk Ugal-ugalan

Sopir truk ternyata memiliki wadah komunitas tersendiri. PSTI salah satunya. Siapa sangka, pentolan perkumpulan beranggotakan 1.800 orang itu warga Kota Madiun. Adalah Hari Mulyawan Risdiyanto yang sejak 23 Februari 2018 menakhodai komunitas tersebut.

=========================

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

PONSEL Hari Mulyawan Risdiyanto nyaris tiap menit berdering. Pun, wawancara Jawa Pos Radar Madiun sesekali terhenti lantaran pria itu harus menjawab telepon yang masuk. Pasalnya, seorang anggota komunitasnya mengalami kecelakaan di Ngawi. Hari memantau perkembangannya melalui koordinator wilayah setempat. Sekaligus memastikan korban telah mendapat bantuan member yang lain.

Langkah itu pula yang dilakukan beberapa bulan lalu saat anggotanya asal Solo tidak bisa pulang dari Maluku lantaran pihak ekspedisi tak memberikan upah. Kala itu, sejumlah anggota saweran untuk membantu rekannya agar dapat mudik.

Ya, sejak 23 Februari tahun lalu, tugas Hari bertambah. Warga Jalan Janur Sari, Kota Madiun, itu terpilih menjadi ketua umum (ketum) Persatuan Sopir Truk Indonesia (PSTI) dan harus menggawangi 1.800 anggota yang tersebar di 10 provinsi di tanah air.

Mengemban jabatan ketum menjadi tantangan tersendiri bagi Hari. Salah satunya menghilangkan stereotipe negatif yang selama ini kerap dialamatkan kepada para sopir truk. Mulai penampilan yang kucel, ugal-ugalan, hingga kebiasaan mengonsumsi minuman keras.

Embrio PSTI berawal dari grup Facebook yang dibentuk 2012 lalu. Seiring berjalannya waktu, banyak anggota yang bergabung. Pada 2014 diselenggarakan pertemuan yang diikuti seluruh anggota grup di Demak. Bersamaan itu PSTI resmi berdiri.

Sepuluh hari berselang digelar pertemuan di Jombang. Termasuk musyarawah membentuk koordinator wilayah (korwil) masing-masing daerah. Hingga kini tiap korwil rutin menggelar agenda rutin bulanan. Sementara, pertemuan tingkat provinsi diselenggarakan enam bulan sekali. ‘’Untuk nasional rencananya tahun depan,’’ tutur pria yang menjadi sopir sejak 1999 silam itu.

Dalam setiap pertemuan, para anggota selalu diingatkan agar menjadi pelopor keselamatan berkendara. Member yang ketahuan ugal-ugalan di jalan bakal mendapat teguran dan sanksi sosial dari anggota lainnya. ‘’Hampir tiap hari ada yang inbox ingin bergabung,’’ imbuhnya.

Setiap kopi darat (kopdar), PSTI selalu menggandeng kepolisian untuk memberikan edukasi kepada para member cara berkendara yang baik dan sesuai aturan. Apalagi, hampir tiap bulan ada saja nyawa anggota yang melayang akibat kecelakaan lalu lintas (laka lantas). ‘’Miris rasanya ketika mendapat informasi ada anggota yang meninggal akibat kecelakaan. Kami merasa kehilangan saudara meskipun kadang belum pernah bertemu,’’ ucap bapak empat anak itu.

Tidak hanya membantu sesama anggota, PSTI juga kerap menggelar kegiatan sosial. Mulai memberikan bantuan kepada kaum duafa hingga penggalangan dana untuk korban bencana. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button