Ponorogo

Izin Penangkaran Merak Jamin Bahan Baku Reyog

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Usaha agar Reyog diakui oleh UNESCO menemui jalan berliku. Tim penyusun harus melakukan presentasi ke Jakarta di hadapan tim penilai. ‘’Waktu presentasi di Jakarta sudah harus menghadapi perwakilan dari UNESCO,’’ kata Rido Kurnianto, ketua tim penyusun naskah akademik reyog Ponorogo, Senin (4/10).

Selain itu, lanjutnya, presentator juga wajib didampingi tujuh kurator. Meski demikian, Rido mengaku bahwa penyusunan naskah akademik agar reyog mendapat pengakuan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) kali ini lebih matang. Sebab, tim penyusun dapat mengambil data-data dari naskah sebelumnya. Di situ diterakan jelas sejarah reyog, perkembangan dari tahun ke tahun, dampak terhadap ekonomi dan masyarakat, serta dinamikanya. ‘’Penilaian sangat rigid, tidak bisa melakukan manipulasi sedikit pun,’’ ujarnya.

Beruntung Rido yang seorang akademisi itu sudah meneliti reyog sejak 1997 lalu. Pun, persetujuan dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa tetap menjadi syarat wajib sebelum reyog maju sebagai nominator peraih pengakuan WBTB dari organisasi internasional di bawah PBB yang mengurusi pendidikan, sains, serta kebudayaan tersebut. ‘’Kali ini reyog lebih siap,’’ terang mantan dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UMPo itu.

Rido menyampaikan, kelengkapan berkas tinggal persoalan izin penangkaran burung merak. Direktur Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) sudah memberikan lampu hijau, namun Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jatim belum menerbitkan izin. ‘’UNESCO juga mensyaratkan ketersediaan bahan baku bulu burung merak itu,’’ ungkapnya. (mg7/c1/hw/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button