features

Istri Mendiang Serda Diyut Itu Kini Makin Gemar Menulis

Tragedi tenggelamnya KRI Nanggala-402 membuat Helen harus kehilangan suaminya, Serda Diyut Subandriyo, untuk selamanya. Tak mau terus-terusan larut dalam duka, perempuan itu kini semakin rajin menulis.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

KERINDUAN Helen pada mendiang suaminya, Serda Diyut Subandriyo, salah seorang anak buah kapal (ABK) korban tenggelamnya KRI Nanggala-402 April lalu, terkadang tak bisa dibendung. Biasanya, ketika rasa itu hadir, Helen langsung menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Puisi berjudul Inilah yang Terbaik, misalnya, berisi upaya Helen untuk ikhlas dan tetap kuat. Juga terus berjuang demi membesarkan dua buah hatinya. ”Dibilang sedih pasti sedih, kehilangan ya sangat kehilangan. Tapi, kalau terus-terusan menangis juga tidak bisa mengembalikan semuanya,” ujar Helen.

Kegemaran menulis perempuan 38 tahun itu sudah muncul sejak masih duduk di bangku SD. Bebagai tulisan, termasuk diari yang ditulis di kertas, sampai sekarang masih tersimpan rapi meski kertasnya telah berubah menjadi kecokelatan. ”Dulu pengin banget punya buku,” akunya.

Helen mulai serius menekuni dunia tulis-menulis sejak 2018 lalu. Berawal saat buah hatinya mengalami koma dan dirawat dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Terakhir di Surabaya selama dua bulan. Kesedihannya lantas dituangkan dalam bentuk tulisan. ”Bisa sedikit mengurangi beban di hati,” tutur kepala MI Darul Ulum, Kota Madiun, itu.

Sejak itulah Helen semakin produktif menulis. Tidak hanya puisi, tapi juga cerpen, pentigraf alias cerpen tiga paragraf, juga antologi. Karya antologinya yang telah dibukukan antara lain New Normal vs Islamic Life Style, Engkau Pahlawan, Romantika dalam Mawadah, Anakku Sayang Puasa Yuk, dan Bersimpuh di Bawah Langit Kakbah.

Saat ini tiga antologi lainnya masih dalam proses cetak di penerbit. Helen juga rajin menulis di media online. Buah karyanya antara lain Belajar dari Seorang Penjahit dan Ayah bersama Kru Nanggala. ‘’Agar terampil menulis harus rajin membaca, termasuk ikut webinar,’’ sebutnya.

Saat ini Helen tengah menyelesaikan sebuah buku yang rencananya diberi judul Serda Lis Diyut Subandriyo bersama Nanggala-402. ”Materinya sudah sekitar 50 persen. Targetnya bisa selesai tahun ini,” ungkap warga Jalan Salak, Taman, itu.

Selama ini Helen tidak memilih waktu khusus unruk menulis. Saat malam maupun ketika bekerja, jika ide muncul langsung ditulis garis besarnya di kertas atau smartphone. Kemudian, saat sudah memiliki waktu luang baru dikembangkan. ”Pokoknya sekarang makin suka menulis,” ucapnya. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button