MadiunSport

Ironis, Dana Pembinaan Pencak Silat Setahun Hanya Rp 17,5 Juta

MADIUN – Keluhan sejumlah perguruan pencak silat akan minimnya perhatian pemerintah daerah untuk membina atlet disikapi dingin Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Madiun. Mereka membantah tidak memberikan perhatian pada cabor pencak silat. ’’Kami rutin menganggarkan,  tapi tetap disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah,’’ kata Ketua KONI Kota Madiun Joko Susilo, Selasa (4/9).

Saat pertemuan bersama forkopimda membahas Suroan dan Suran Agung Senin lalu (3/9), sejumlah perguruan pencak silat mengutarakan minimnya perhatian pemkot dalam membina atlet. Ironi, mengingat Madiun mengklaim diri sebagai kampung pesilat. Namun nyatanya atlet berprestasi internasional justru muncul dari Ponorogo. Joko membantah disebut kurang perhatian terhadap pencak silat.  ’’Tahun lalu Rp 15 juta (anggaran pembinaan, Red),’’ ujarnya.

Tahun ini, Joko menyebut IPSI telah mengusulkan anggaran pembinaan kepada KONI senilai Rp 17,5 juta. Nantinya hibah Rp 800 juta dari pemkot kepada KONI untuk tahun ini akan dialokasikan sesuai usulan masing-masing cabor. Termasuk kepada IPSI. Hanya, sampai sekarang belum ada kejelasan kapan bisa dicairkan. Namun demikian, Joko memastikan setiap usulan pendanaan dari cabor akan ditampung oleh KONI. Hanya, disesuaikan hibah dari pemkot.

’’Di luar anggaran rutin dari KONI, perguruan kan sebenarnya juga memiliki keuangan yang cukup untuk membina di internal mereka. Seharusnya baru ketika ada atlet potensial, dibina oleh IPSI,’’ ujarnya. ’’Nah, pembinaan di tingkat IPSI itu menggunakan anggaran pembinaan dari KONI,’’ imbuh Joko.

Bisakah pencak silat di kampung pesilat menggapai prestasi setinggi Ponorogo? Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Madiun Widodo menilai Kota Karismatik mampu. Kuncinya, tinggal seberapa mau pemerintah daerah berbuat lebih dari sekadar memberi dana hibah kepada IPSI melalui KONI. Salah satu yang bisa dilakukan dengan melakukan penjaringan atlet berbakat. Itu bisa dilakukan melalui penyelenggaraan kompetisi. ’’Bakat ketika ditemukan sedini mungkin, bisa diasah semaksimal mungkin. Jadi, semakin dini penjaringan, semakin baik,’’ tegasnya.

Ketika bakat sudah ditemukan lewat kompetisi, perlu ada pembinaan berjenjang. Disitulah IPSI diharapkan bisa mengambil peran. Tidak sekadar membina lewat latihan intens serta tryout. Menurut Widodo, atlet juga perlu distimulus berbagai reward untuk memacu mereka berprestasi lebih. Pun, reward tidak melulu harus dengan memberikan uang. Menggratiskan biaya pendidikan dipandang Widodo sudah cukup baik bagi atlet.

’’Atau setidaknya, memberi jaminan pengangkatan sebagai tenaga kontrak atau tenaga harian lepas (THL). Itu pemkot sangat mampu, seperti contohnya sepak bola yang banyak atletnya ditarik di dishub,’’ tandasnya. (naz/c1/ota)

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close