Madiun

Irfan Afifi dan Perjalanan Pencarian Jati Dirinya

Menangis Setiap Kali Teringat Perjuangan Istri

Perjalanan hidup Irfan Afifi cukup berliku. Di awal pernikahannya, dia justru memutuskan resign dari pekerjaannya di sebuah media online. Pria itu lantas ‘’mondok’ di sebuah pesantren demi mencari jati diri.

_______________________________________

ASEP SYAEFUL BACHRI, Kota, Jawa Pos Radar Madiun

AGAMA seharusnya tak hanya berhenti sebagai ajaran, tapi juga membantu manusia mencapai puncak budi pekerti. Sebab, kalau hanya ajaran, koruptor juga bisa salat dan berangkat haji,” kata Irfan Afifi disambut anggukan kepala puluhan orang yang memadati sebuah kedai di Jalan Salak, Kota Madiun.

Sore itu, budayawan asli Tambakboyo, Mantingan, Ngawi, tersebut menjadi narasumber diskusi bertajuk ”Madiun: Menilik Ulang Budaya Jawa dan Islam’‘. Acara dihadiri berbagai kalangan, mulai pelajar, akademisi, seniman, hingga budayawan.

Irfan merupakan penulis Saya, Jawa, dan Islam. Sebuah buku berisi pergulatan, proses, dan pemikiran pengelola Suluk Kebudayaan Indonesia di Jogjakarta itu. ”Semua bacaan filsafat yang pernah saya baca saat kuliah filsafat di sebuah perguruan tinggi di Jogja runtuh. Tukang pijat yang saya temui itu seolah menampar saya,” ujarnya.

Pertemuannya dengan Paryono, si tukang pijat, pada 2007 silam di sebuah rumah kontrakan di Sleman membuat hidupnya berubah 180 derajat. Kala itu pinggangnya bermasalah hingga meminta Paryono untuk memijatinya. ‘’Kamu harus jadi pancer bagi sedulurmu yang berjumlah empat dalam dirimu itu,’’ tutur Irfan menirukan nasihat si tukang pijat.

Wejangan itu membuatnya kaget bukan kepalang karena serasa disindir. Pencarian diri lewat bacaan-bacaan filsafat barat di perguruan tinggi selama tujuh tahun membuat jati diri kejawaannya hilang. Sejak itu Irfan banyak membaca buku-buku penelitian antropologis, sosiologis, dan filosofis terkait Jawa dan Islam di Indonesia. Baik karya orientalis barat maupun sarjana dalam negeri.

Tak puas dengan apa yang dia dapatkan, di awal pernikahannya Irfan justru memutuskan resign dari pekerjaan sebagai redaktur di sebuah media online. Dia lantas ngaji di sebuah pesantren Desa Mlangi, Sleman, saat subuh dan malam.

Irfan pun mengajak istrinya mengontrak rumah kecil di pinggir Desa Mlangi. ”Setiap mengingat masa itu saya pasti meneteskan air mata karena istri yang kelewat sabar. Dia rela berjualan bakpia untuk menyambung hidup. Padahal, baru saja lulus S-2,” kenang pendiri langgar.co tersebut.

Upaya memahami keterkaitan Jawa dan Islam itu tak sia-sia. Irfan berhasil menelurkan sebuah buku. Pun, kini sering diundang menjadi narasumber acara bedah buku karyanya tersebut. ”Islam punya sumbangsih besar kepada apa yang kita bilang saat ini sebagai Jawa. Contohnya, wayang. Semua ceritanya berisi ajaran tasawuf Islam,” bebernya.

Ketua Lesbumi Kota Madiun Ajar Putra Dewantara mengamini pernyataan Irfan. Dia mencontohkan, praktik orang bersalaman. Biasanya, usai salaman, tangan ditempelkan ke dada. Itu menandakan tradisi tersebut juga merupakan laku batin. ”Agama dan budaya tidak bisa dipisahkan. Agama sebagai ajaran, sedangkan kebudayaan sebagai implementasi dari ajaran tersebut,” ujarnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close