features

Iptu Sunyoto Antar Polres Madiun Kota Raih Prestasi Tingkat Polda

Rutin Cek Ruang Tahanan dan Pelototi CCTV

Polres Madiun Kota baru saja mencatat prestasi mengesankan terkait perawatan tahanan dan barang bukti (tahti). Hasil moncer itu tidak terlepas dari sentuhan tangan dingin Iptu Sunyoto yang menakhodai satuan tahti polres setempat.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

SENYUM bahagia tergambar jelas dari sorot mata Iptu Sunyoto. Maklum saja, pria tersebut berhasil mengantar Polres Madiun Kota masuk lima besar terbaik jajaran Polda Jawa Timur dalam penggunaan aplikasi Simatahati Semeru. ”Tidak menyangka kami masuk lima besar,” ujar Sunyoto usai penyerahan penghargaan di halaman Mapolres Madiun Kota Senin (17/5).

Aplikasi Simatahati merupakan sistem manajemen tahanan dan barang bukti. Melalui aplikasi tersebut pihak keluarga bisa berkomunikasi tanpa harus bertatap muka. Karena itu, dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang dinilai sangat efisien.

Berdasarkan penilaian Polda Jatim, Polres Madiun Kota meraih penghargaan di dua kategori. Yakni, peringkat pertama pengecekan tahanan dan urutan ketiga pembinaan tahanan. ‘’Tugas saya sendiri mengoordinasi anggota serta melakukan pengecekan dan pembinaan tahanan di mapolres sebanyak 38 orang,’’ terang Kasat Perawatan Tahanan dan Barang Bukti (Tahti) Polres Madiun Kota itu.

‘’Mulai memotivasi dan sering-sering mengingatkan anggota bahwa setiap kegiatan harus didokumentasikan dan nantinya terhubung langsung atau termonitor Polda Jatim melalui Simatahati,” imbuhnya.

Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Sunyoto dibantu tiga regu petugas jaga dan dua staf. Pun, mereka rutin melakukan pengecekan ruang tahanan untuk meminimalkan potensi tahanan kabur. ‘’Juga selalu memonitor CCTV,’’ ujar pria yang menjabat Kasat Tahti Polres Madiun Kota sejak Agustus 2018 itu.

Karier suami Sulistyoningsih itu di korps baju cokelat dimulai setelah lulus dari Bintara Polri pada 1988 silam. Kali pertama dia bertugas di Polwil Madiun. Pada 1991 Sunyoto dimutasi ke satreskrim. Kemudian, pada 2005 ditarik lagi ke polwil sebagai anggota reskrim.

”Memang paling lama di satreskrim. Di satreskrim kami selalu berhadapan dengan yang namanya perkara, baik yang dilaporkan masyarakat maupun temuan sendiri. Sedangkan di sattahti menerima tahanan yang sudah diterbitkan surat penahanan, baik oleh satreskrim, satnarkoba, maupun satlantas,” urainya. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button