AdvertorialPonorogo

Ipong Muchlissoni Terkesan Keramahan Warga Desa

SUGUH, GUPUH, ARUH

Program tilik desa sudah digelar dua edisi oleh Bupati Ipong Muchlissoni. Pertama pada 2017, lalu dilanjutkan tahun ini. Awalnya, sebagian besar keluhan yang ditangkap adalah soal infrastruktur. Saat ini banyak warga yang merasa puas dengan kepemimpinan sang bupati. Kehangatan terasa dari setiap kunjungan ke desa-desa.

……….

TILIK desa di Desa/Kecamatan Bungkal menjadi salah satu yang paling diingat Bupati Ipong Muchlissoni. Di sana ada seorang perempuan lansia yang tampak ingin bertanya kepada sang bupati. Setelah diberi kesempatan, rupanya dia hanya ingin bersalaman dan berfoto bersama orang nomor satu di Ponorogo itu. Ipong pun tersenyum lebar. Seketika langsung mengambil gawainya untuk berfoto bersama si nenek. ‘’Antusiasme masyarakat di desa-desa sangat luar biasa,’’ kata Ipong.

BERKESAN: Bupati Ipong Muchlissoni berswafoto bersama seorang warga saat tilik desa di Desa/Kecamatan Bungkal.

Program tilik desa digagas Ipong menjelang pertengahan periode dirinya menjabat. Edisi pertama dilaksanakan pada 2017 silam. Sempat vakum pada 2018, edisi kedua tilik desa berlanjut tahun ini. Sudah 50 desa yang disambangi Ipong sampai menjelang akhir 2019. Dia menangkap adanya perbedaan dari tilik desa edisi pertama dengan yang kedua. ‘’Aspirasi masyarakat sudah berubah,’’ ujarnya.

Pada edisi pertama tilik desa 2017 lalu, kebanyakan masyarakat selalu menyuarakan mengenai persoalan infrastruktur. Misalnya, dalam sekali sesi tanya jawab di satu acara tilik desa. Dari lima warga yang diberi kesempatan bertanya langsung, semua dari mereka menyuarakan soal perbaikan infrastruktur. Namun, pada tilik desa saat ini sudah tidak ditemukan pertanyaan-pertanyaan tersebut. ‘’Kadang tidak ada penanya sama sekali. Secara umum sudah puas,’’ tuturnya.

Saat ini Ipong lebih melihat kunjungannya ke desa-desa sebagai ajang silaturahmi antara warga dengan pemimpinnya. Suasananya pun terasa lebih hangat. Di setiap acara, Ipong sering menyanyi bersama warga. Setiap permintaan bersalaman dan berswafoto juga selalu disanggupi. ‘’Secara umum, saya melihat kekuatan Ponorogo itu ada pada budaya suguh, gupuh, aruh (keramahtamahan masyarakat desa, Red) kepada pemimpinnya. Ini kesan yang saya tangkap sejak tilik desa 2017,’’ ungkap Ipong.

Tak jarang berbagai pengalaman unik didapat Ipong ketika menyambangi warganya di desa-desa. Rupanya, Ipong populer di kalangan warga perempuan. Baik muda, tua, maupun lansia. ‘’Juga ada mbah-mbah yang datang jauh-jauh ternyata hanya ingin bertemu dengan saya. Beliau tidak bersekolah, tapi ketika menyanyikan Indonesia Raya, beliau hafal dengan baik,’’ kisahnya.

Sebagai evaluasi jalannya tilik desa di sepanjang tahun ini, Ipong menilai program ini harus dilanjutkan tahun depan. Dia akan kembali berkeliling dari satu desa ke desa lainnya. Tilik desa juga sangat efektif dalam menggiatkan pembangunan di desa. ‘’Masyarakat merasa senang dan termotivasi ketika didatangi bupati. Jadi, bukan hanya soal menyerap aspirasi, tapi bagaimana memotivasi supaya masyarakat di desa juga ikut serta dalam pembangunan,’’ tandasnya. (naz/c1/fin/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close