Ponorogo

Investasi Bodong Berkedok Penggemukan Sapi Perah, Direktur-Bendahara Langsung Dipenjara

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Polisi akhirnya menetapkan HS dan AS sebagai tersangka investasi bodong berkedok bisnis penggemukan sapi perah. Keduanya merupakan pentolan CV TMJ. ‘’Keterangan saksi korban, saksi ahli, serta pengakuan HS dan AS cukup memenuhi unsur untuk menetapkan mereka sebagai tersangka,’’ kata Kapolres Ponorogo AKBP Arief Fitrianto.

HS dan AS ditetapkan sebagai tersangka sejak Sabtu (22/2). Dalam badan usaha di Bangunsari itu, HS merupakan direktur dan AS sebagai bendahara. Sebagai direktur, HS berperan menetapkan kebijakan di perusahaannya. Sementara AS turut serta memutar dana hasil investasi yang dihimpun dari para korban. ‘’Keduanya langsung ditahan,’’ tegas Arief.

Tim penyidik berhasil mengorek lengkap modus yang dilancarkan HS dan AS. Mereka menawarkan paket investasi penggemukan sapi perah. Satu paket investasi plus biaya operasional dihargai Rp 19 juta. Korban dijanjikan keuntungan Rp 2,3 juta per bulan. Investasi itu ditawarkan dari pintu ke pintu. ‘’Masyarakat tergiur karena CV TMJ mengklaim ada subsidi dari pemerintah, sehingga selisih keuntungan semakin besar. Mereka juga mengklaim sudah bekerja sama dengan pabrik susu ternama,’’ beber kapolres.

Setelah ditelusuri, seluruh klaim CV TMJ itu fiktif. Tidak ada satu pun program subsidi dari pemerintah yang diterima. Pun, nihil perusahaan susu yang bekerja sama. Supaya korban percaya, perusahaan memberikan keuntungan yang dijanjikan kepada sebagian orang. ‘’Uang itu sebenarnya dari investasi korban yang diputar oleh perusahaan. Sehingga terkesan sudah untung. Akhirnya semakin banyak korban yang percaya,’’ terangnya.

Arief mengungkapkan, ada korban yang sampai rela berinvestasi untuk 50 atau 100 paket. Nominalnya sampai ratusan juta rupiah. Hingga Sabtu lalu, sudah 14 orang yang melapor sebagai korban. Arief yakin jumlah korban akan terus bertambah. Polisi menjerat HS dan AS dengan pasal 378 dan 372 KUHP dengan ancaman pidana empat tahun penjara. ‘’Kami masih dalami adanya unsur-unsur tindak pidana pencucian uang (TPPU). Karena sejauh ini uang dari korban juga digunakan untuk membeli aset perusahaan,’’ tandasnya. (naz/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button