Pacitan

Insting Widianto Manfaatkan Lidi Janur Jadi Peralatan Dapur

Insting Widianto memanfaatkan barang tidak terpakai cukup jeli. Lidi janur disulap menjadi berbagai jenis peralatan dapur. Meski baru tiga bulan, usahanya itu banjir pesanan hingga membuatnya kewalahan.

==================== 

SRI MULYANI, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

LIDI demi lidi ditata Widianto menjadi beberapa bagian. Masing-masing ikatan yang terdiri tujuh batang lidi itu dirangkai dengan pola melingkar. Tak berselang lama, sebuah piring terbentuk. ‘’Ini sedang menyelesaikan pesanan,’’ kata warga Desa Kali Kuning, Tulakan, Pacitan, tersebut.

Di tempat tinggalnya, Widianto dikenal sebagai perajin peralatan dapur berbahan lidi janur kelapa. Selain piring, ada mangkuk dan lepek. Usahanya itu mulai ditekuni tiga bulan lalu. Ketika melihat banyak lidi janur tidak terpakai di rumah. Orang tuanya sekadar menggunakan daunnya untuk pakan ternak. Angan-angan Widianto tergerak memanfaatkan menjadi barang bernilai ekonomis.

Dia lantas ngobrol dengan istri dan mencari referensi di YouTube. ‘’Sebelum bikin piring, kepikiran sapu. Tapi harga jualnya terlalu murah dan rugi di lidinya. Juga ada contoh rumah dan menara, tapi bingung untuk memasarkannya,’’ ungkap pria 25 tahun itu.

Meski tinggal mengikuti arahan di video, suami Rika Rijayanti itu kesulitan untuk membuat piring dari lidi yang sempurna. Piring yang bagus dihasilkan setelah mencoba selama satu minggu. Hasilnya lantas diunggah di media sosial (medsos). Tujuannya bukan untuk menjual, melainkan mengetahui apakah bisa laku. Respons positif pun didapat. Widianto memproduksi dengan jumlah lebih banyak. ‘’Saya buat sampai genap satu lusin baru diunggah di akun jual beli di Facebook,’’ ujarnya.

Tidak berselang lama, sesorang memesan satu lusin piring lidi. Pelanggan pertama itu tidak hanya memberikan respons positif. Tapi juga saran agar produk dibuat lebih rapi. Setelah itu, orderan yang datang semakin bertambah. ‘’Saya punya lima model piring anyaman lidi,’’ sebut Widianto.

Widianto menganyam dengan beberapa jenis lidi yang berbeda. Yakni, dari janur yang menguning, hijau di pohon, atau kering dengan sendirinya karena lama didiamkan. Dia tidak menggunakan lidi yang tua atau kering di pohon karena gampang patah. ‘’Lidinya beli di sekitaran Pacitan,’’ ucapnya seraya menyebut piring berdiamater 23 sentimeter menghabiskan sekitar 72 buah lidi.

Dalam sehari, bila bahan dan kebutuhan sudah komplet, Widianto bisa menyelesaikan satu lusin piring lidi. Harga satuannya Rp 5.500, dan Rp 38 ribu hingga Rp 50 ribu untuk satu lusinnya. Semuanya dijual lewat jasa medsos. ‘’Sudah banyak pesanan meski baru tiga bulan. Saya sampai kewalahan karena istri tidak bisa membantu,’’ bebernya. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close