Ngawi

Ingin Temui Presiden Jokowi, Medhi Bastoni Berjalan Mundur dari Talungagung ke Jakarta

Beragam cara dilakukan warga untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI. Mulai memasang bendera merah putih dan segala pernak-perniknya, hingga aksi nyeleneh. Medhi berjalan mundur ke Jakarta untuk ikut upacara bendara 17 Agustus nanti.

——————

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

ASPAL hitam Jalan Raya Paron-Ngawi ditapaki Medhi Bastoni. Terik matahari siang itu seakan tak mengganggu perjalanannya. Sesekali kaca yang dibingkai paralon diliriknya. Untuk memastikan langkahnya tak  serong. ‘’Berangkat dari Tulungagung, Kamis lalu (18/7),’’ katanya.

Aksi Medhi memang tak biasa. Warga Dusun/Desa Dono, Sendang, Tulungagung, itu berjalan mundur lebih dari 700 kilometer ke Jakarta. Pada 17 Agustus nanti, Medhi berharap bisa mengikuti upacara detik-detik proklamasi bersama Presiden Jokowi di Istana Merdeka.

Misi khusus pun dibawanya. Dia berharap presiden sudi memberi sebuah pohon besar untuk ditanam. ‘’Nanti pohon itu akan saya tanam di lereng Gunung Wilis sebagai monumen. Sebagai edukasi agar peduli terhadap hutan kita,’’ terang pria pencinta alam itu.

Medhi harus pandai mengatur langkah. Dalam sehari dia pasang target 20 hingga 30 kilometer bisa ditempuh. Berjalan mundur di jalan raya, tak jarang kendaraan berat berseliweran membuat bulu kuduknya  merinding. ‘’Gak nyangka jalannya seramai ini. Untungnya waktu sampai Caruban (Madiun) ada teman yang mau mendampingi berjalan ke Jakarta,’’ ujarnya.

Bukan kali pertama jalan mundur dilakukan Medhi. Aksi nyeleneh itu sudah dilakoninya sejak 18 tahun silam. Saban tahun jelang HUT Kemerdekaan RI. Bukan pamer, semata sebagai tanda bakti pada negara. Simbol agar masyarakat sudi menengok ke belakang sejenak melihat sejarah perjuangan bangsa. ‘’Tahun ini paling jauh. Sebelumnya hanya sekitar 20 kilometer atau keliling kota,’’ ungkapnya.

Beragam pengalaman dirasakan pria kelahiran 10 Mei 1976 itu. Ada yang nyinyir menganggap cari sensasi. Namun, tak sedikit pula yang terkesan. Beragam bekal seperti makanan, minuman, hingga jamu dan uang saku kerap diterima. Seluruh donasi yang diterimanya itu bakal digunakannya untuk reboisasi kelak. ‘’Gak nyangka sampai seviral ini,’’ ucapnya.

Kerap mendapat tawaran menginap saat malam hari, namun bapak empat anak itu berpantangan menumpang di rumah warga. Dia sungkan jika harus membangunkan pemilik rumah dini hari jelang melanjutkan perjalanan. Tempat ibadah dan pos kamling jadi andalannya melepas penat. ‘’Saya dari rumah juga bawa uang saku agar tak merepotkan orang lain,’’ pungkasnya.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close