Ponorogo

Indri Masruroh, Peraih Penghargaan Guru Honorer Inspiratif Nasional dari PB PGRI

Kreasikan Sampah Daur Ulang sebagai Bahan Ajar Siswa

Ponorogo memiliki guru inspiratif. Dia adalah Indri Masruroh. Belum lama ini, Indri menerima penghargaan dari PB PGRI sebagai guru honorer inspiratif nasional. Penghargaan yang menjadi angin segar di tengah keprihatinan nasib para guru honorer.

==================

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

SENYUM bahagia seolah tidak lepas dari bibir Indri Masruroh sejak Selasa (3/12). Kebahagiaan itu didapat setelah Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) menobatkan dirinya sebagai guru honorer inspiratif nasional pada Sabtu lalu (30/11).

Warga Desa Plancungan, Kecamatan Slahung, itu langsung bersemangat ketika ditanya soal penghargaan tersebut. Sekalipun wajah perempuan yang mengajar di TK Dharma Wanita itu terlihat letih. ‘’Baru sampai Senin lalu (2/12). Belum tata-tata (rumah) ini,’’ katanya.

Indri mengaku bangga bisa memperoleh penghargaan level nasional tersebut. ‘’Pejabat dari PB PGRI ketika menyerahkan (penghargaan) berterima kasih kepada saya, karena sudah berkiprah dan berguna. Bisa menyemangati teman-teman sesama guru honorer,’’ ujarnya.

Adapun tolok ukur yang dijadikan PB PGRI memberikan penghargaan itu adalah kreativitas guru dalam mengajar. Dalam hal ini, Indri punya kebiasaan memanfaatkan sampah daur ulang sebagai media belajar.

Ide itu didapat Indri saat kondisi keuangan sekolah terbatas. Sehingga, tidak bisa mengadakan alat peraga edukasi baru kepada siswa. Dari situ, Indri kemudian punya ide untuk memanfaatkan sampah plastik di lingkungan tempat tinggalnya sebagai bahan ajar. ‘’Sebelumnya sampah itu saya olah. Kegiatan ini sudah saya lakukan sejak kali pertama mengajar sampai sekarang,’’ ungkapnya.

Kepiawaiannya dalam menggambar juga diaplikasikan menjadi metode pembelajaran baru. Seperti ruang kelas yang dihiasnya sendiri dengan berbagai bentuk warna dan gambar. Indri juga mendesainkan baju dan kostum bagi siswanya secara sukarela demi bisa ikut lomba. Baik itu lomba drumben, karnaval, maupun pentas seni.

Indri mengaku terharu ketika menerima penghargaan tersebut. Sebab, menurutnya, menjadi seorang guru bukan untuk mencari keuntungan atau materi berlebih. Tapi lebih kepada upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

Sekalipun honor yang diterimanya sebagai guru tidak tetap (GTT) terbilang kecil, Indri masih beruntung punya pekerjaan sampingan. Yakni, menjalankan usaha butik. ‘’Gaji dan rezeki itu beda. Kalau gaji, instansi yang memberi. Tapi, rezeki itu Allah yang mengatur. Dan, rezeki itu berbagai macam bentuknya. Semua yang saya dapat, saya anggap berkah mengajar di TK,’’ ucapnya. ****(her/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button