Pacitan

Indrata Nur Bayuaji, Anak Pantai Jadi Bupati

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Peselancar yang kini resmi duduk di kursi AE-1 Pacitan itu mengenang peristiwa beberapa tahun silam. Anak pantai kelahiran Pacitan, 16 Desember 1978, itu menganggap lautan bagian dari sekolah alam. Insiden itu mengajarkan hakikat perjuangan dalam mengarungi samudra kehidupan. ‘’Saat itu tali (pengikat kaki di papan selancar) putus karena tidak kuat menahan terjangan ombak,’’ kenang Aji, sapaan Indrata Nur Bayuaji, Selasa (27/4).

Pesan moralnya, setiap saat haruslah cerdas mengambil momentum. Tak boleh memaksakan keinginan tanpa mempertimbangkan keadaan dan selalu mengurai persoalan sesuai porsinya. Sebab, tiap masalah memiliki solusinya sendiri-sendiri. ‘’Sebelum melangkah diperlukan mapping yang baik. Waktu yang diambil pun harus tepat. Terlalu terburu dalam bertindak risikonya gagal. Jika membiarkan momen lewat, tentu akan kembali dengan tangan kosong. Ketika ada masalah tidak boleh panik. Tetap berpikir rasional untuk menemukan jalan keluar terbaik,’’ tutur putra pasangan Soedjono dan Endang Widyowati itu.

Kalimat tersebut mencerminkan pandangan Aji dalam berpolitik. Dunia yang kini dijalani ibarat samudra luas penuh badai dan gelombang. Diperlukan pendekatan yang tepat untuk mengubah tantangan menjadi peluang hingga kelak membawa maslahat bagi kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Seni mengelola persoalan itulah yang membuatnya mencintai profesinya sebagai politisi.

Suami Evi Suraningsih, 34, itu mengenal surfing sejak 2003 silam. Mengisi waktu luangnya usai merampungkan Sastra Inggris di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing (STIBA) Malang. Sempat rutin setiap pekan, seiring kian padatnya kegiatan, surfing cukup dilakukan sekali sebulan. Semula, Aji yang rumahnya hanya berjarak 1,5 kilometer dari Teluk Pacitan itu kerap bermain bola pantai. Asyik bermain bola di hamparan pasir, dia lama-lama tertantang menaklukkan gulungan ombak lautan. ‘’Biasanya surfer tidak bisa meninggalkan kebiasaannya untuk berselancar. Sensasinya luar biasa,’’ ungkap penggemar novel karya Haruki Murakami dan Eiji Yosikawa itu.

Saking gandrungnya berselancar, olahraga ini kerap terbawa mimpi. Bunga tidurnya sering dihiasi imajinasi indahnya gelombang ombak untuk berselancar. Ketika terbangun, gambaran itu tak bisa lepas dari ingatan. Tak mau sedikit pun kehilangan kesempatan, dia terus menunggu ombak bagus untuk kembali berselancar. Legislator Partai Demokrat itu sudah malang melintang di dunia selancar. Hampir seluruh spot surfing di Bumi SBY pernah dijajalnya. Mulai Watukarung, Srau, hingga spot Kali Uluh di Desa Klesem, Kecamatan Kebonagung. Spot di Pancer Door tetap menjadi pilihan terbaik. Sebab, memiliki karakter ombak yang memanjang dan tidak terlalu keras. Cocok untuk fun ridding (berdiri di atas papan selancar). ‘’Di sana ombaknya bisa muncul setiap saat tak terpatok waktu,’’ ujarnya.

Aji banyak belajar dari ombak dan badai di lautan. Selaras dengan pandangan Haruki Murakami, sastrawan dari Kyoto, Jepang, yang digemarinya. Ketika badai telah berlalu, Anda tidak ingat lagi bagaimana caranya bertahan dan berhasil melewatinya. Terkadang justru meragu apakah badai benar-benar telah berlalu. Tetapi satu hal yang pasti, Anda tidak menjadi orang yang sama lagi. Hikmah itulah yang terkandung dari datangnya badai. (gen/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button