Madiun

Imlek 2571, Hidup Bersahaja Mekar seperti Bunga

Di negeri asalnya, Tionghoa, perayaan Imlek mensyukuri peralihan musim dingin ke musim semi. Harapan yang sama dipanjatkan warga menyongsong Imlek 2571 di Kota Madiun. Menjalani kehidupan di sepanjang tahun dengan penuh keberkahan.

……

HAN HOO GWAN masih ingat betul harus menunggu proses naturalisasi. Di era 80-an itu, dia merasakan betul susahnya berganti nama. Dia harus menunggu proses sidang pengadilan hingga persetujuan dari pusat. Dua bulan berselang barulah namanya resmi berganti Agung Hartono. ‘’Ketika itu semuanya mengurus. Prosesnya panjang,’’ kenang salah seorang tokoh etnis Tionghoa tersebut.

Ketika itu, panjang-tidaknya sebuah nama bergantung dari pajak bangsa asing (PBA). Jika yang bersangkutan tidak keberatan membayar pajak, nama warisan marga tetap tersemat dalam identitas. Namun, jika keberatan, harus rela menghapus nama marga di identitas dan menjalani sulitnya mengurus pergantian nama. Termasuk yang dilakukan Agung dan hampir semua peranakan etnis Tionghoa di Kota Madiun di masa lalu. ‘’Marga saya Han. Lalu diubah Hartono, hampir mirip. Begitu kira-kira,’’ ujar warga yang juga pengurus Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hwie Ing Kiong itu.

Banyak kesulitan yang dialami semasa negara ini masih dipimpin pemerintahan Orde Baru. Warga etnis Tionghoa baru bernapas lega saat memasuki era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Merayakan Imlek dan bebas memasang simbol pecinan seperti lampion, barongsai, dan lainnya. Kemerdekaan itu dirasakan sampai sekarang. ‘’Ketika itu, merayakan tahun baru Imlek sembunyi-sembunyi, tidak berani kelihatan,’’ ungkapnya.

Agung masih ingat betul, ketika itu kelenteng masih harus dipagari seng. Imlek dirayakan dengan memanjatkan doa dan menikmati perjamuan dengan masing-masing keluarga secara sembunyi-sembunyi. Pintu rumah tertutup rapat. ‘’Mengerikan. Jauh dari keramaian,’’ imbuh kakek 80 tahun yang tinggal di Jalan Citandui, Kota Madiun, itu.

Chung Hwa Sie Siauw (CHSS) yang sekarang digunakan SMPN 6 Kota Madiun merupakan bekas tempatnya bersekolah. Namun, ditutup setelah pecah gejolak G30S/PKI 1965 silam. Riwayat CHSS sebagai Sekolah China pun tamat. ‘’Buku diambil. Tidak heran jika anak muda setelah generasi itu tidak paham lagi bahasa China,’’ sambungnya.

Sekitar 30-an tahun lebih kengerian itu harus dirasakan dari generasi ke generasi. Namun, hal itu tidak membuat warisan budaya dan tradisi leluhur mereka mati. Mereka tetap menjaga warisan budaya meski kala itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Seluruh filosofi hidup tetap tertanam dan dipraktikkan dalam setiap tata pelaksanaan perayaan Imlek dan hari besar lainnya. ‘’Setiap gerak bahkan ada makna yang terkandung,’’ tuturnya.

Perayaan Musim Semi

Imlek sejatinya tradisi perayaan tahunan yang dilakukan warga di daratan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Untuk menyambut datangnya musim semi selepas musim dingin. Lantas mengapa harus dirayakan?

Agung mengungkapkan, ketika musim dingin seluruh aktivitas hampir lumpuh. Tak bisa bekerja di kebun, laut, maupun gunung. Akitivas harian kembali normal setelah musim semi. Karena itu, peralihan musim ini disambut hangat. ‘’Musim semi disambut dengan gembira. Berbagai perayaan digelar untuk menyemarakkannya,’’ terangnya.

Hingga kini bentuk perayaan itu tetap lestari. Biasanya dimulai dengan jamuan makan keluarga besar. Seluruh anggota keluarga yang tinggal di luar daerah kembali ke rumah asal. Jamuan makan bersama itu dilakukan saat sore maupun malam sebelum sembahyang mulai pukul 00.00 di malam tahun baru Imlek. ‘’Semuanya pulang, sanak keluarga kembali untuk menghormati orang tua,’’ tambahnya.

Biasanya ada sajian untuk persembahan yang dipajang di salah satu ruangan rumah. Persembahan itu terdiri dari berbagai hasil kekayaan sebagai wujud syukur. Setiap persembahan merupakan manifestasi harapan dari pemilik rumah. Buah apel atau bin ko dimaknai sebagai harapan aman dan damai. Buah pir melambangkan budi pekerti. Serta hasil kekayaan alam mulai laut maupun darat. Ada pula kue mangkok dalam persembahan. Bentuknya yang menyerupai bunga, kue itu bermakna sebuah harapan agar pada musim semi dan sepanjang tahun kehidupan mereka senantiasa diberkahi. Mekar seperti bunga. ‘’Kalau lebih kuno lagi ada persembahan kepala babi, ayam, ikan, dan lain-lain,’’ paparnya.

Pai, Hong Sui, dan Nilai Menghormati Orang Tua

SEJAK Gus Dur menetapkan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional, publik mulai mengidentikkan tangan mengepal dengan ucapan selamat tahun baru. Gong xi fa cai. Rupanya tangan mengepal itu tidak sekadar kepalan tangan. Ada tata cara dan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Dalam tradisi China, kepalan tangan itu biasa dikenal sebagai pai atau soja. Itu sedikit banyak dipengaruhi tradisi Konghucu. Tangan kanan menggenggam kemudian dibalut dengan tangan kiri di atasnya. ‘’Tangan kanan itu identik dengan pedang atau pria,’’ jelas Agung.

Karena itu, pai dimaknai untuk penghormatan. Selain itu, empat jari kanan dan kiri yang bersentuhan merupakan manifestasi empat nilai pegangan hidup bagi laki-laki dan perempuan. Bagi laki-laki, empat nilai itu yakni xiao, ti, zhong, xin. Artinya, berbakti, rendah hati, setia, dan dapat dipercaya. Bagi perempuan, yakni li, yi, shu, zi. Artinya, mengerti susila, adil, suci atau memaafkan, dan tahu malu. ‘’Ada tingkatannya juga,’’ urainya.

Posisi pai berbeda. Tergantung status sosial dan usia. Pai di bawah dada biasanya ditujukan untuk lawan bicara yang lebih rendah. Jika sederajat biasanya pai, posisinya sederajat dada atau mata. Kepada yang lebih tua, pai di atas mata. Serta pai yang lebih tinggi diangkat ke atas untuk para dewa. ‘’Begitulah kami ajarkan kepada generasi penerus peranakan Tionghoa,’’ paparnya.

Selain itu, ada ilmu Hong Sui yang biasanya digunakan dalam setiap momen perhitungan hidup. Mulai tata cara perjodohan (pernikahan) hingga kematian dan lain-lain. Untuk pernikahan, misalnya, dihitung betul mulai shio, juga tanggal lahir kedua calon mempelai untuk menentukan waktu dan hari pernikahan. ‘’Itu warisan orang tua. Sudah jarang yang mengerti dan bisa membaca buku itu. Saya saja belum terlalu paham,’’ ungkapnya.

Perhitungan itu biasanya juga digunakan untuk tata cara kematian. Semisal ada salah seorang warga meninggal pada hari A jam B. Maka, untuk jam dan hari pemakaman dihitung berdasarkan ilmu tersebut. Termasuk dalam membangun rumah, semua ada perhitungannya. ‘’Kalau di Jawa disebut primbon,’’ katanya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close