Bupati Menulis

HUT Ke-344 Bumi Mageti (Tempat Introspeksi Diri)

PADA tanggal 12 Oktober 2019 kemarin Kabupaten Magetan merayakan ulang tahun yang ke-344. Sebuah usia yang cukup panjang dibandingkan dengan usia republik yang kita cintai. Ini juga menunjukkan bahwa sistem pemerintahan sebelum republik  ini berdiri, sudah ada pemerintahan setingkat kabupaten yang dahulu disebut kadipaten yang dipimpin oleh bupati.

Dan secara kebetulan HUT Kabupaten Megetan bersamaan persis dengan Provinsi Jawa Timur. Sama-sama tanggal 12 Oktober. Hanya kalau Kabupaten Magetan genap berusia 344 tahun dumulai ketika Basah Gondokusumo diwisuda menjadi bupati dengan condro sengkala “Manunggaling rasa suka hambangun,” sedang provinsi Jawa Timur sendiri ditetapkan  berdasarkan mulai pemerintahan Jawa Timur di bawah RI dengan Gubernur pertama R.M.T Soerjo.

Tentu setiap perayaan ulang tahun harus dimaknai setidak-tidaknya sebagai introspeksi atau refleksi dengan usia yang demikian panjang bagaimana posisi Kabupaten Magetan ini di dalam percaturan untuk meningkatkan kamajuan dan kesejahteraan masyarakatnya. Tentu kita harus jujur dalam menilai agar bisa menentukan strategi untuk mengejar apabila masih tertinggal di belakang.

Magetan dalam sejarah sudah banyak dikenal. Bahkan ketika usia republik ini masih seumur jagung Presiden dan Wakil Presiden pertama Sukarno-Hatta pernah berkunjung ke Kabupaten Magetan tahun 1948 dan beristirahat di sekitar Telaga Sarangan. Malahan dari foto-foto lama yang terekam Hatta bersama istrinya. Selain sejumlah anggota rombongan lainnya.

Tentu kedatangan Sukarno-Hatta di magetan menunjukkan bahwa Magetan sangat dikenal sejak dulu dengan wisatanya. Sejajar dengan tempat wisata lainnya, seperti Batu, Lembang, Puncak dsb. Namun dengan perkembangan sampai dengan saat ini jujur harus diakui bahwa Magetan sangat tertinggal cukup jauh dengan tempat-tempat tersebut.

Kita tahu, bahwa daerah bahkan sampai negara dengan pariwisata yang maju terbukti sangat potensial untuk mensejahterakan masyarakatnya. Beberapa negara sangat tergantung dengan wisatanya seperti Thailand, Singapura, Qatar, Selandia Baru, beberapa Negara Eropa bahkan Arab Saudi saja sekarang sudah mulai melirik pariwisata khususnya untuk pantai Laut Merah sudah ditetapkan untuk daerah khusus dengan banyak pengecualian. Ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata merupakan salah satu cara yang baik untuk menggerakkan ekonomi sekaligus mensejahterakan masyarakatnya.

Kalau di Indonesia kita mesti belajar dari Yogyakarta dan Bali. Dua daerah ini sangat tergantung dari sektor pariwisata selain tentu pendidikannya. Malahan untuk tingkat kabupaten, karena pariwisata sebagai pengungkit Kabupaten Badung Bali sejak Orde Baru merupakan salah satu kabupaten yang sudah sehat dalam sistem otonomi daerah. Apalagi dengan sitem pemerintahan daerah sekarang. Dengan sumber pajak yang semakin bervariasi tentu PAD akan jauh lebih besar. Sedang kita tahu semua bahwa pada waktu Orde Baru sistem politik yang dibangun dalam sistem otonomi daerahnya sengaja daerah dibuat tergantng dengan pemerintah pusat.

Berangkat dari potensi itulah maka pariwisata di Magetan harus menjadi pengungkit sekaligus lokomotif kemajuan untuk kesejahtaeraan. Oleh sebab itu salah satu langkah yang diambil adalah untuk semua sektor arahnya adalah untuk menunjang pariwisata. Seperti infrastruktur jalan. Untuk infrastruktur jalan menuju obyek wisata harus menjadi prioritas tentu tanpa mengabaikan kepentingan yang lain.

Selain pembangunan infrastruktur tentu harus terus dipikirkan memperbanyak event. Bayangkan kalau di Kabupaten Magetan ada dua puluh delapan organisasi pemerintah daerah (OPD) setahun dengan dua agenda saja maka akan ada lima puluh enam event setiap tahun. Belum event yang mungkin bisa ditarik dari pemerintah provinsi, pusat maupun dari sektor privat. Tentu ini potensi yang sangat besar. Sehingga setiap minggu bisa jadi ada event di Magetan. Berapa kemudian perputaran uang yang terjadi.

Ambil contoh tanggal 12 Oktober 2019 kemarin ada Jambore LJ 2019 (Little Jeep 2019) di Cemorosewu. Yang diinisiasi penggemar mobil Jeep. Peserta ada 300 mobil datang. Kalau satu mobil membawa tiga orang, berapa yang dibelanjakan di Magetan. Inilah kalau ada event pasti akan membawa dampak ekonomi yang sangat luar biasa.

Posisi Kabupaten Magetan saat ini masih jauh dan perlu banyak sentuhan kebijakan untuk membawa magetan lebih baik. Untuk mengejar ketertinggalan. Sekalius menyalip daerah yang sudah maju. Oleh sebab itulah sesuai visi kami “Magetan yang Smart semakin mantab dan lebih sejahtera,” caranya adalah membuat jargon “Magetan Terdepan.” Dikandung maksud, bahwa semua OPD harus mempunyai program dan inovasi untuk membawa OPD yang dipimpin menjadi terdepan.

Kalau setiap OPD mempunyai satu Inovasi saja dan kalau tidak dapat membuat Inovasi mencotoh daerah yang lain yang paling maju, maka semua OPD akan menjadi menonjol. Kalau semua menonjol maka akan berdatangan dari daerah lain untuk studi tiru di Magetan.

Meminjam istilah dari almarhum BJ Habibie, melihat kondisi yang sudah tertinggal jangan kemudian memulai dari belakang. Tidak akan mampu menyalip. Oleh sebab itu beliau membuat lompatan  “mulailah pada akhir dan berakhir pada awal.” Dikandung maksud memulai dari yang paling maju dan kemudian meinggalkannya sehingga berakhir selalu pada awal.

HUT ke-344 Kabupaten Magetan akan bermakna apabila lompatan kemajuan semakin nyata. Kalau tidak peringatan HUT hanya akan menjadi kegiatan rutin tanpa makna selain sekedar menjalankan kegiatan tanpa dampak apapun bagi kemajuan Magetan dan kesejahteraan masyarakat. Kalau itu yang terjadi betapa ruginya kita. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button