Pacitan

”Hujan Batu” Ancam Tujuh Rumah

Warga Krajan, Semanten, Ketakutan ketika Hujan

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Sejumlah warga RT 03/RW 03, Dusun Krajan, Semanten, Pacitan, dilanda kecemasan setiap kali hujan mengguyur. Sebab, turunnya hujan sering kali diikuti gemuruh. Setelah dicek, gemuruh yang mirip suara petir itu ternyata longsoran bebatuan dari bukit yang tidak jauh dari permukiman. ‘’Setiap kali hujan jadi khawatir,’’ kata Marjuki, warga setempat, Senin (13/1).

Marjuki mengungkapkan, gemuruh itu kali pertama terdengar Kamis malam (9/1). Bersamaan hujan lebat yang mengguyur tempat tinggalnya. Bunyinya sampai membuat warga kocar-kacir keluar rumah. ‘’Tentu waswas karena pecahan batunya besar-besar,’’ ujarnya.

Diameter pecahan batu lebih dari 50 sentimeter. Bebatuan itu tertahan pepohonan. Tujuh rumah terancam oleh ”hujan batu” tersebut. Beberapa warga pilih mengungsi sementara waktu. Khawatir terjadi longsor susulan. ‘’Mengungsinya hanya sebentar, kalau sudah tidak hujan atau pagi kembali,’’ terangnya seraya menyebut dua rumah berada tepat di bawah bebatuan tersebut.

Menurut Marjuki, longsoran bebatuan itu terjadi karena kerusakan hutan di bukit. Banyak pepohonan yang ditebang. Sebagian dialihkan oleh pemilik lahan menjadi tanaman produktif. Beberapa kali kebakaran di bukit itu turut memperparah kondisi hutan. ‘’Kalau tidak ada pohon yang tersisa, bebatuannya pasti sudah sampai sini (permukiman, Red),’’ ucapnya.

Dia berharap pemkab meneliti peristiwa yang terjadi di tempat tinggalnya. Sehingga warga tahu kemungkinan terjadinya longsor bebatuan susulan. ‘’Warga ketakutan. Susah tidur kalau malam,’’ ungkapnya. (gen/c1/cor)

Tunggu Antrean PVMBG Teliti Keretakan

BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan menyebut enam lokasi bakal dikunjungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Unit lembaga Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu meneliti fenomena keretakan tanah yang bermunculan di awal musim penghujan. ‘’Enam lokasi itu punya potensi tanah gerak dan longsor,’’ kata Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan Diannita Agustinawati Senin (13/1).

FENOMENA ALAM: Tanah ambles di Desa Mantren, Punung, ketika ditinjau bupati beberapa waktu lalu. PVMBG diminta meneliti lima lokasi lain dengan potensi serupa.

Enam lokasi tersebut di antaranya tanah Desa Mantren, Punung, dan jalan Desa Tinatar. Lalu, tanah gerak di Ngadirejan, Pringkuku, yang mengancam sekolah setempat. Juga longsor yang menimpa bangunan sekolah satu atap (satap) di Ngadirejan, Pringkuku. PVMBG bakal mengkaji struktur tanah hingga potensi kebencanaannya. Hasilnya menjadi acuan pemkab mengambil langkah. ‘’Apakah relokasi atau masih bisa ditinggali dan lainnya, berdasar hasil penelitian,’’ ujarnya.

Kendati demikian, Diannita belum bisa memastikan kapan PVMBG memulai penelitiannya. Pihaknya harus mengantre karena keterbatasan tim peneliti dan banyaknya kasus serupa di tanah air. ‘’Belum bisa dipastikan bulan ini,’’ ucapnya.

Terlepas enam titik yang akan dikunjungi PVMBG, BPBD mencatat tanah gerak berpotensi terjadi di seluruh kecamatan di kabupaten ini. Arjosari dan Tegalombo paling rawan. Bahkan bisa meluas seiring curah hujan tinggi dan menilik dampak kemarau panjang tahun lalu. ‘’Setiap bulan kami update potensi tanah gerak agar lebih waspada,’’ tutur Diannita.

Menurut dia, datangnya bencana longsor sulit diprediksi. Warga tidak waspada karena suara kejadian itu mirip petir. Seperti kasus longsor di Desa Sidomulyo, Kebonagung, dua tahun lalu. Empat orang tewas tertimbun longsoran bukit belakang rumah. ‘’Upayakan siskamling siaga bencana. Kalau hujan mengguyur lama segera evakuasi,’’ imbaunya. (gen/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close