Madiun

Hujan 4 Jam, Enam Desa Tergenang

Wilayah Terparah Kecamatan Madiun

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Ancaman banjir mulai nyata. Hujan sekitar empat jam yang mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Madiun dini hari Rabu (25/12) mengakibatkan sejumlah sungai meluap. Sedikitnya enam desa di tiga kecamatan – Madiun, Wonoasri, dan Mejayan- terdampak.

‘’Paling parah di Kecamatan Madiun,’’ kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun Muhammad Zahrowi.

Rowi –sapaan Muhammad Zahrowi- menjelaskan, ada empat desa di Kecamatan Madiun yang diterjang banjir. Yakni, Banjarsari, Sendangrejo, Dimong, dan Tulungrejo. Di Dusun Butuh, Sendangrejo, banjir disebabkan Dam Bengkok di Kali Piring tersumbat sampah dan batang pohon.

Genangan air sampai masuk halaman SMPN 2 Nglames. Sementara, di Desa Banjarsari, sungai di desa setempat meluap akibat sumbatan sampah. Air menggenangi beberapa ruas jalan. Sedangkan di Dusun Babatan, Dimong, banjir disebabkan tersumbatnya Buk Bengkok Kaliwuluh. Air meluber ke jalanan setempat hingga ketinggian 30 sentimeter.

Banjir luapan di Kecamatan Madiun berikutnya terjadi di Desa Tulungrejo. Dam Pengairan Tanjung di desa setempat juga tersumbat. ‘’Dampaknya sampai menggenangi lahan padi kurang lebih tiga hektare dan halaman PAUD KB Putra Harapan,’’ imbuh Rowi.

Banjir luapan juga menerjang Desa Ngadirejo, Wonoasri. Kali Wuluh di Dusun Pojok, desa setempat, tersumbat dhapur bambu. Sementara di Kaliabu, Mejayan, air sungai meluap lantaran tersumbat sampah. ‘’Bersama warga dan beberapa relawan sudah dilakukan penguraian sampah agar aliran sungai lancar,’’ jelasnya.

Meski begitu, Rowi menyebut penguraian sampah bukan merupakan solusi penanggulangan banjir untuk jangka panjang. Melainkan harus ada tindakan mitigasi lain agar kejadian serupa tidak terulang bahkan menjadi lebih parah.

Normalisasi saluran disebutnya menjadi salah satu solusi jangka panjang. Termasuk pembangunan fisik lain yang berkaitan penanggulangan banjir. ‘’Kabupatan Madiun itu termasuk wilayah rawan bencana. Edukasi kebencanaan, sarana dan prasarana, juga SDM harus ditingkatkan,’’ pungkasnya. (den/c1/isd)

Meluber ke Pasar, Jual Beli Lumpuh

PULUHAN pedagang Pasar Babadan, Desa Dimong, Madiun, tidak bisa berjualan Rabu (25/12). Sebagian balik kanan lantaran akses jalan terendam banjir. Beberapa lainnya yang kadung buka dasar nekat berjualan di tengah kepungan genangan air. ‘’Air masuk pasar sekitar pukul 05.30,’’ kata Sudarto, salah seorang pedagang.

Pasar yang hanya buka setiap pasaran Wage dan Legi itu lumpuh. Banjir datang menerjang saat sejumlah pedagang telah membeber barang dagangan. Air datang dari luapan kali di jembatan Bok Banteng akibat tersumbat pohon pisang dan bambu. ‘’Kalau kali sudah meluap ke jalan, arah air langsung ke pasar,’’ ungkapnya.

Banjir yang menggenangi area Pasar Babadan berlangsung sekitar 3,5 jam. Ketinggian air mencapai 30 sentimeter. Pun, merugikan para pedagang. Pasalnya, Wage kemarin bertepatan dengan tanggal merah Hari Natal hingga pembeli diprediksi membeludak. Namun, kenyataannya pasar sepi karena nihil pengunjung. ‘’Sudah langganan, air masuk ke pasar lewatnya gorong-gorong ini,’’ ujar Sudarto.

Bambang Arifin, petugas pasar setempat, menyebut gorong-gorong di sebelah selatan pasar menjadi pintu masuk air yang melumpuhkan aktivitas jual-beli. ‘’Sebenarnya gorong-gorong itu untuk pembuangan air dari pasar,’’ sebutnya.

Bambang mengatakan, luapan air tidak akan masuk area pasar jika ada klep pintu air di gorong-gorong tersebut. Peranti itu bisa dibuka saat ada pembuangan air dari dalam pasar dan ditutup rapat ketika ada luapan air dari kali setempat. ‘’Pengadaan klep sudah diusulkan ke dinas perdagangan sejak rehab pasar pada 2017 lalu, tapi sampai sekarang belum terealisasi,’’ bebernya.

Kabid Pengelolaan Pasar Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Raswiyanto membenarkan bahwa genangan air di Pasar Babadan akibat luapan air sungai yang tersumbat. Pun, gorong-gorong yang menjadi akses masuk air banjir ke dalam pasar.

Menurut dia, banjir jenis luapan seperti itu baru kali pertama yang terjadi di pasar tersebut. Karena itu, dia belum bisa berkomentar banyak terkait permintaan pedagang untuk dibuatkan klep. ‘’Dicek dulu domain gorong-gorong itu wewenang siapa. Akan kami koordinasikan dengan instansi terkait, baru kemudian ada penanganan,’’ janji Raswiyanto. (den/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close