Pacitan

HNSI Pacitan Desak Tindak Pelaku, Pengepul, dan Pelak Benur

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Komitmen pemangku kepentingan memberantas praktik penangkapan benur disambut baik para nelayan di Pacitan. Mereka menuntut tidak sekadar menangkap pelaku, tapi membersihkan pelak di laut. Keberadaan keramba penangkap baby lobster itu membatasi gerak kapal dan lemparan jaring. ‘’Pelak hingga jangkar harus diangkat agar tidak menyangkut di jaring,’’ kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pacitan Damhudi kemarin (11/10).

Menurut Damhudi, pelak di laut mengganggu aktivitas neyalan kapal kecil. Jaring yang dilemparkan seringkali tersangkut pada pelak benur. Manuver kapal juga tidak bisa leluasa. Di sisi lain, lokasi benur banyak berada di kawasan ikan bernilai ekonomi tinggi. Salah satunya Pantai Soge. ‘’Saking banyaknya, panorama laut saat malam sudah seperti pasar malam karena nyala lampu pelak,’’ ujarnya.

HNSI mendesak penertiban pihak terkait juga menyasar para pengepul atau penadahnya. Sebab, dalam praktiknya, nelayan nekat menanam pelak diduga karena dibiayai pengepul. ‘’Nelayan tidak akan menangkap benur kalau tidak ada yang menampung,’’ ungkap Damhudi.

Sebelumnya, pihak UPT Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan duduk satu meja dengan HNSI Pacitan, Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, polres, dan pengusaha lobster. Mereka diskusi ihwal ketegasan menindak penangkap baby lobster. Terkuak sekitar 20 pengepul benur di kabupaten ini. Sedangkan jumlah pelak mencapai ratusan.

UPT PPP bakal melayangkan surat mendesak pembersihan pelak. Sedangkan polisi mengawasi dan memetakan pengepul benur. Juga membuat surat edaran agar praktik itu dihentikan. Melanggar Permen Kelautan 56/2016 tentang Pengambilan Jenis dan Berat Lobster yang Boleh Diambil. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close