Ngawi

Himawan Guntoro di Balik Wisata Petik Durian Giriharjo, Ngrambe

Penjualan Dilakukan Satu Pintu agar Harga Tinggi

Dulu, durian di Desa Giriharjo, Ngrambe, bisa dibilang hanya buah biasa. Namun, berkat inovasi Himawan Guntoro, buah dengan aroma menyengat itu jadi salah satu mesin pendapatan desa setempat.

========================== 

DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

SENYUM mengembang di wajah Himawan Guntoro tatkala mengunjungi kebun durian di Desa Giriharjo, Ngrambe. Buah dengan kulit berduri itu banyak bergelantungan di pepohonan. Tercium aromanya yang khas pertanda sudah matang dan siap dipanen. ‘’Ada bermacam-macam varietas, mulai durian montong, kani, bawor, matahari, D24, hingga musangking,’’ sebutnya.

Kebun seluas 1,5 hektare itu milik Guntoro. Dia yang memelopori pendirian kebun itu sebagai wisata petik durian desa tempat tinggalnya. Total ada 620 pohon. Perinciannya, 500 pohon hasil penanaman warga setempat dan 120 pohon milik sang tuan tanah. Wisata tersebut dikelola BUMDes dengan mempekerjakan delapan pemuda desa setempat.

Jumlah pengunjung rata-rata 25 orang per hari pada hari biasa. Ketika liburan atau weekend, melonjak hingga 100 pengunjung. Strategi pemasaran berkembang dari sebelumnya getok tular, kini merambah digital. ‘’Potensi durian tinggi sekali, tapi selalu dijual murah,’’ ujar pria 28 tahun tersebut.

Guntoro memandang rendahnya harga jual tidak berimbas terhadap para petani. Kondisi itu yang jadi latar belakang membuat terobosan penjualan satu pintu oleh pemerintah desa (pemdes). Selain diharapkan menaikkan harga, hasilnya juga bisa mengerak pendapatan asli desa (PADes). ‘’Selain PADes, tumbuh lapangan pekerjaan,’’ imbuhnya.

Terobosan itu bukan berdasar angan-angan semata. Guntoro menggandeng akademisi salah satu perguruan tinggi di Solo, Jawa Tengah, untuk melakukan kajian pada 2015 lalu. Kawasan agropolitan terintis lewat program kuliah kerja nyata (KKN) mandiri. ‘’Dari situ muncul kajian tentang penanaman hingga perawatan durian,’’ terangnya.

Pohon durian yang berbuah sekitar tiga hingga empat tahun dari masa tanam itu sangat rentan serangan hama. Perawatan harus intens, terlebih ketika musim berbuah. Menyiasati lamanya waktu panen, sistem tanam tumpang sari diterapkan di kawasan kebun. Tanaman palawija dan pisang menjadi alternatif. ‘’Kalau hanya menunggu, tidak efektif,’’ katanya. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close