Madiun

Hikayat Penjaja Roti di Pengungsen Barito

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pada 1835 silam, pemerintah kolonial Belanda memberlakukan kebijakan Wijkenstelsel. Undang-undang yang mengatur pengelompokan permukiman berdasarkan etnis. Di Kota Madiun, kawasan pecinan membentang di selatan alun-alun. Mulai Jalan Agus Salim, Cokroaminoto, hingga Gang Tengah (Jalan Barito).

Pengungsen menjadi salah satu jejak peninggalannya. Rumah besar itu masih berdiri kokoh di Gang Tengah. Lokasinya kini tampak tersembunyi dari tepi Jalan Barito. Tertutup pagar tembok dengan pintu gerbang berwarna biru. Di masa penjajahan, rumah itu berfungsi sebagai tempat pengungsian bagi etnis Tionghoa. Tak diketahui pasti kapan persisnya rumah itu mulai berdiri.

Simjim (bukan nama sebenarnya) mengenang masa kecilnya. Di rumah kuno itu pula, dia dilahirkan pada 1967 silam. Di masa lalu, rumah itu dihuni tak kurang dari 30-an kepala keluarga (KK). Mereka menempati 12 kamar di bangunan utama. Kamarnya membentang di selatan dan utara bangunan yang menghadap ke timur. Selebihnya orang-orang tinggal di bilik-bilik sekitar bangunan utama. Dahulunya rumah itu membentang hingga tembus Jalan Agus Salim. Simjim sempat merantau ke Kalimantan Selatan selama 15 tahun. Pada 2018 dia pulang dan kembali menempati rumah masa kecilnya itu sampai sekarang. ”Yang menghuni sekarang tinggal beberapa orang, termasuk saya,” katanya.

Simjim kecil masih ingat waktu itu warga Tionghoa yang tinggal di kawasan tersebut merupakan pengusaha roti. Namun, sekarang yang bertahan hanya sembilan KK. Banyak generasi setelahnya yang merantau ke berbagai daerah. Pun, hanya tersisa satu-dua keluarga yang meneruskan usaha roti. ”Dulu yang tinggal di sini dari berbagai daerah. Ada yang dari Ponorogo maupun Surabaya,” kenangnya.

Sampai kini, seluruh bangunan rumah itu masih asli. Dengan dinding pintu berukuran raksasa dan dinding tebal khas arsitektur gaya kolonial. Deretan kamar di bagian utara rumah itu pun masih utuh. Di selatannya berdiri rumah-rumah yang sebagian masih ditempati. Di depan bangunan utama, ada bangunan yang mulai roboh. Serta ada sumur tua yang tidak difungsikan lagi. ”Pengungsen merupakan tempat pengungsian bagi warga Tionghoa ketika terjadi pergolakan di era kolonial Belanda,” tutur Andrik Suprianto, pegiat Historia van Madioen (HvM).

Belum diketahui pasti apakah di pengungsen itulah cikal bakal kampung pecinan di kota ini. Andrik menegaskan bahwa kampung pecinan berada di kawasan selatan alun-alun Kota Madiun. Mulai Jalan Agus Salim, Cokroaminoto, Barito, dan sekitarnya. ‘’Jadi, memang ada pengklasifikasian atau strata jika dilihat dari peninggalan bangunan yang masih lestari,’’ bebernya.

Andrik mencontohkan bangunan khas Tionghoa yang masih lestari di Jalan Agus Salim. Seperti rumah Bakso Solo serta rumah marga Tjan. Catatan Jawa Pos Radar Madiun, rumah marga Tjan didirikan Tjan Boen Pin dan Sie Ai Nio selepas pasutri itu hijrah dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sekitar abad 18 silam. Sementara di Jalan Cokroaminoto merupakan pusat peribadatan yakni Kelenteng Hwie Ing Kiong dan pusat pendidikan yakni Chung Hwa Sie Sauw (CHSS) yang sekarang difungsikan SMPN 6 Kota Madiun. ‘’Gang Tengah (Jalan Barito) itu perkampungan, ada tempat pengungsian itu,’’ lanjutnya.

Andrik menyebut, sebagian besar perkampungan pecinan selalu ditandai adanya pasar. Seiring dengan masuknya orang-orang Tionghoa ke tanah air melalui jalur perdagangan. Di kota ini, jejak itu tertandai di Pasar Kawak. ”Pasar yang masih beroperasi sampai sekarang itu dari dulu sudah menjadi tempat berdagangnya orang-orang Tioghoa,” terangnya.

Bisa dibilang, kampung pecinan mulai terbentuk atau dikenal sejak era kolonial Belanda. Seiring pemberlakuan kebijakan Wijkenstelsel. Tata kota serupa jamak ditemui di berbagai belahan daerah di Nusantara. ‘’Dengan Wijkenstelsel, Belanda mengumpulkan etnis Tionghoa di satu kawasan. Biasanya di perkotaan. Makanya dikenal sebagai kampung pecinan,’’ paparnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close