Madiun

Hidup Sebatang Kara, Mbah Inem Cari Rezeki dari Bubur Sumsum

Masih Banting Tulang di Usia Senjanya

Tak semua orang menghabiskan usia senjanya dengan hidup nyaman. Mbah Inem, misalnya. Di usianya yang sudah 78 tahun, perempuan itu masih berjualan bubur sumsum di Pasar Besar Madiun.

___________________

ASEP SYAEFUL BACHRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

HARI sudah menjelang siang. Mbah Inem tampak berkeliling Pasar Besar Madiun (PBM). Tangannya menenteng dua buah mangkuk putih berisi bubur sumsum. Di salah satu kios, dia berhenti dan memberikan kedua mangkok tersebut kepada seorang perempuan parobaya dan anak kecil.

Setelah itu, dia bergeser ke kios lain menawarkan buburnya. Jika mereka tidak tertarik membeli, Mbah Inem kembali ke tempat mangkalnya di dekat area parkir belakang pasar. ”Kalau tidak begini tidak laku,” kata perempuan 78 tahun itu.

Warga Kejuron, Taman, itu saban hari membawa perabotan jualan yang sangat sederhana. Kuali buburnya diletakkan di wakul bambu kecil. Lantas, ditutup tampah yang di atasnya terdapat beberapa mangkuk, sendok, dan lap kain. Dia juga membawa ember air kecil untuk mencuci mangkuk dan sendok. ”Belum berencana berhenti,” ujarnya.

Mbah Inem mulai berjualan di PBM sekitar pukul 10.00. Sebelumnya, pada pagi buta dia sudah memasak bubur sumsumnya. Setelah itu, menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Setelah dirasa siap, Mbah Inem memanggil tukang becak untuk mengantarkannya ke PMB. ”Pulangnya nunggu dagangan habis,” terangnya.

Mbah Inem awalnya membuka warung kopi di PBM pada 1990 silam. Kemudian, pada 2008 dia banting setir berjualan bubur. Tepatnya setelah kebakaran hebat melalap habis pasar terbesar di Madiun Raya itu. Tak lama berselang setelah kejadian tersebut, sang suami pergi untuk selamanya. ”Setelah kebakaran terakhir itu, saya tidak mempunyai kios lagi. Juga sudah tidak ada yang membantu karena suami meninggal,” ucapnya.

Mbah Inem saat ini tinggal sebatang kara. Ketiga anaknya mengadu nasib di Batam, Lampung, dan Brunei Darussalam. Semua aktivitasnya di rumah dikerjakan sendirian. ”Anak saya sudah mencar-mencar semua,” tutur perempuan asli Ponorogo itu.

Mbah Inem merupakan anak semata wayang. Pun, sejak kecil –tepatnya saat penjajahan Jepang- tak pernah tahu wajah ayahnya. Cerita yang dia dengar, sang ayah menjadi romusa. Pun, Mbah Inem tidak pernah tahu kapan sang ayah meninggal dan di mana makamnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close