Ngawi

Heri Keswanto Sanggup Hasilkan Karya Kreatif meski Berkebutuhan Khusus

Keterbatasan fisik tak menyurutkan Heri Keswanto berkreasi. Bermodal separo badannya yang masih bisa digerakkan, laki-laki ini membuat vas kain. Tentu saja bernilai jual dan menghasilkan uang.

————–

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

ALUNAN tembang campursari nyaring mengisi ruang tamu. Heri Keswanto duduk beralas tanah. Sibuk menata potongan kain handuk di atas meja kerjanya. Sesekali melirik beberapa buah mangkuk di atas kursi. Bak menemukan ide, tangannya langsung menyambar peralatan untuk menyelesaikan karyanya. ‘’Buat vas dari kain,’’ katanya.

Heri pengidap kelainan saraf. Tangan dan kakinya mati rasa. Step, panas tinggi, dan kejang kala usia tujuh bulan membuatnya tak dapat menggerakkan separo badannya. Pun berdampak pada pola bicaranya yang kaku dan terpatah-patah. Namun, keterbatasan itu bukan penghalang warga Dusun Jegolan, Tempuran, Paron, itu berkarya. Dia mampu membuat dan menjual kerajinan vas bunga dari kain. ‘’Dulu uangnya pengin buat beli kursi roda baru. Tapi sudah ada yang kasih,’’ ujarnya.

Berkreasi sejak sebulan silam, buah karya Heri viral di media sosial. Belajar otodidak dari tontonan televisi. Unik dan tak pasaran. Semangat itu membuatnya banjir pesanan. Tak hanya dari warga sekitar. Dari daerah tetangga seperti Madiun, Solo, dan Magetan pun ramai memesan. ‘’Dijual online dibantu tetangga,’’ sebut pria kelahiran 28 November 1992 ini.

Proses pembuatan vas bunga kain tak begitu rumit. Potongan handuk ukuran 30×20 sentimeter dicelup dalam adonan semen dan air. Mempertahankan bentuk mangkuk, sebelum mengeras kain diletakkan pada ujung bambu yang ditancapkan tanah. Agar terlihat indah, kain dilipat membentuk lekukan. Saat bentuk vas dan kain sudah mengeras, mangkuk dicat sesuai keinginan. ‘’Bisa kain apa saja, tapi lebih bagus handuk karena tebal,’’ papar bungsu tiga bersaudara ini.

Dalam sehari Heri mampu membuat dua hingga tiga buah vas. Meski begitu, tak jarang  gagal. Salah takaran semen hingga kondisi cuaca yang kurang terik membuat vasnya lembek. Terkadang sulit cari bahan baku. ‘’Biasanya dapat handuk dari tetangga, bapak yang bantu potong,’’ tutur putra pasangan Kasdi dan Poniyem ini.

Heri ingin buah karyanya menghasilkan pundi-pundi rupiah. Dia menjulanya Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per buah. Dia berencana memperbaiki rumah dari laba penjualan vasnya. Perhatian dari pemerintah setempat juga dinantinya. ‘’Banyak yang pesan, kadang beli empat atau tiga buah sekaligus,’’ ujarnya.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close