Pacitan

Hasil Penambangan PT GLI di Pacitan 8 Kilogram Emas Per Hari?

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Debat kusir kerusakan lahan warga Desa Cokrokembang, Ngadirojo, akibat aktivitas penambangan PT Gemilang Limpah Internusa (GLI) bertolak di angka. Penghasilan perusahaan dan kandungan logam tambang pun jadi itung-itungan. ‘’Jika melihat nominal penghasilan, mestinya PT GLI tidak keberatan membayar kompensasi,’’ kata Masherly Sutarso, kuasa hukum warga Desa Cokrokembang, Rabu (6/11).

Hengky, sapaan Masherly, bersama tim di Pos Bantuan Hukum Komite Advokasi Hukum Nasional Indonesia (Kanni) coba menaksir pendapatan PT GLI. Per hari perusahaan tersebut mengeruk 50 ton hasil tambang bernilai Rp 11 Miliar. Itungan itu berdasar jumlah dump truck yang keluar mengangkut material tambang. ‘’Hasil tambang 50 ton sehari itu minimal. Padahal ada delapan sampai 12 dump truck yang keluar setiap hari,’’ ungkapnya.

Dia menaksir penghasilan PT GLI bisa lebih besar dari itung-itungan tersebut. Sebab, belakangan pihaknya juga melakukan riset kandungan tambang. Bongkahan hasil tambang seberat 10 kilogram dikirim ke laboratorium di Gresik. ‘’Kalau per hari PT GLI menambang 50 ton, akan didapatkan sekitar delapan kilogram emas,’’ ujarnya.

Hasil riset itu menyebutkan terdapat kandungan emas di pertambangan PT GLI di Ngadjirojo. Dari bongkahan 10 kilogram hasil tambang, lanjut Hengky, diambil sampel 500 gram dalam bentuk serbuk. Setelah diproses menghasilkan 1,6 logam yang terdiri 1,212 gram tembaga, 0,309 gram timah, dan 0,008 gram emas. ‘’Tinggal dihitung saja harga logam-logam tersebut. Tembus Rp 11 miliar lebih penghasilannya per hari. Itu jika rata-rata per hari 50 ton,’’ paparnya.

Hengky menyebut ada 24 warga Desa Cokrokembang yang jadi kliennya. Sementara kompensasi yang dituntut Rp 100 ribu per meter persegi. Namun, terdapat sekitar 60 warga yang berjalan sendiri tanpa didampingi kuasa hukum. Dari jumlah tersebut, nominal kompensasi yang dituntut warga Rp 30 miliar. ‘’GLI harus mau itu. Tanah di koordinat tambang warga juga yang membayar pajaknya,’’ ungkapnya sembari menambahkan jika akhir November masalah ini belum selesai, akan minta pemkab menutup PT GLI.

Sementara itu, legal officer PT GLI Badrul Amali mengatakan wilayah penambangan PT GLI seluas 350 hektare. Dia mengklaim hanya dua titik yang mestinya mendapat ganti rugi. Yakni, titik 25 dan titik 21 wilayah penambangan yang ambles. Namun, untuk berapa luasan lahan terdampak belum bisa dipastikan. Alasannya, masih dalam perdebatan. ‘’Tidak ada aturan yang mengatakan tambang di bawah tanah itu harus memberi ganti rugi tanah di atasnya,’’ sebut Badrul.

Tentang kandungan emas di wilayah tambanganya, Badrul tidak menampik juga tidak mengamini. Menurut dia, kemungkinan itu memang ada. Sebab, dua logam (tembaga dan emas) merupakan dua kandungan yang berdampingan. Jika yang satu ada, kemungkinan besar yang satunya lagi juga ada. ‘’Jangan disamakanlah permintaan dengan tuntutan. Kewajiban perusahaan kepada negara berupa pajak, yang kemudian diwujudkan dengan bagi hasil untuk Pacitan,’’ ujar Badrul.

Sekadar diketahui, dana bagi hasil sumber daya alam (DBH SDA) mineral dan batu bara (minerba) Pacitan tidak tinggi. Bidang Anggaran dan Perbendaharaan BPKAD Pacitan menyebut DBH SDA Minerba senilai Rp 376 juta 2020 nanti. Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pacitan Joni Maryono memastikan izin tambang PT GLI untuk logam seng dan tembaga. (den/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button