Madiun

Hari tanpa Bayangan Tak Perpanjang Hujan

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Fenomena hari tanpa bayangan atau kulminasi tahun ini berada di Jawa Timur. Pukul 11.20 Minggu (13/10) fenomena di mana matahari tepat berada di atas kepala pengamat atau titik zenit itu terjadi di Kota/Kabupaten Madiun dan Magetan. Tidak heran udara terasa panas menyengat.

Kasi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Surabaya Teguh Tri Susanto memastikan fenomena itu tidak berpengaruh terhadap musim. Mengingat fenomena itu hanya terjadi setahun dua kali. ‘’Sesuai dengan kajian dan prakiraan cuaca,’’ katanya.

Fenomena kulminasi juga tidak berpengaruh terhadap suhu udara. Meskipun panas terasa menyengat, namun suhu udara terbilang relatif tetap. ‘’Untuk kulminasi di Jatim terjadi mulai 11-15 Oktober mendatang,’’ ujarnya.

Khusus di Jawa Timur, prediksi hujan mengalami kemunduran. Itu artinya kemarau terjadi sedikit lebih panjang ketimbang tahun lalu. Namun, itu tidak ada kaitannya dengan fenomena kulminasi yang terjadi tahun ini. ‘’Sesuai prakiraan cuaca yang telah dirilis dan sifatnya nasional,’’ terangnya.

Prakiraan hujan mengalami kemunduran satu hingga tiga dasarian. Artinya, 40 persen wilayah di Jatim memasuki musim penghujan November mendatang. Tidak menutup kemungkinan, di beberapa daerah hujan lokal turun lebih dulu. ‘’Berbicara soal iklim itu sifatnya jangka panjang. Banyak pertimbangan dan triger-triger dengan area yang lebih luas,’’ ungkap Teguh.

Sebelum memasuki musim penghujan, seluruh daerah memasuki masa peralihan. Indikatornya, arah angin telah variabel. Turun hujan lokal dengan durasi singkat dan tidak merata. ‘’Seperti di selatan tapal kuda, mulai Lumajang, Bondowoso, dan sekitarnya sudah mulai menunjukkan indikator tersebut,’’ tuturnya.

Sementara di Madiun dan sekitarnya, prakiraan masa peralihan pada dasarian ketiga bulan ini. Datangnya musim penghujan diperkirakan pada dasarian pertama hingga ketiga bulan depan. ‘’Prakiraan cuaca Madiun dan sekitarnya sama dengan Surabaya,’’ sebutnya.

Prakiraan itu, tegas Teguh, dapat dijadikan acuan. Namun, tak menutup kemungkinan cuaca sewaktu-sewaktu berubah. Kendati kajian itu cukup valid dan telah dipakai sejak dulu. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close