AdvertorialMagetan

Hari Jadi ke-344, Kabupaten Magetan SMART

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Magetan Smart menjadi tema Hari Jadi ke-344. Smart kependekan dari Sehat, Maju, Agamis, Ramah, dan Terampil. Tiap kata memiliki makna yang menjadi pengharapan dalam merepresentasikan kemajuan dan perkembangan kabupaten ini.

Sehat. Pemkab Magetan telah mengalokasikan 10 persen dari APBD untuk bidang tersebut. Menjamin masyarakatnya sehat secara jasmani dan rohani. Program Bunda Kasih juga menjamin kehidupan lansia. ‘’Pelayanan puskesmas kami tingkatkan dengan mengutamakan perekrutan dokter,’’ kata Bupati Magetan Suprawoto.

Maju. Suka tidak suka, perkembangan teknologi harus diikuti. Pelaksanaan pilkades e-voting menjadi salah satu wujud kemajuan tersebut. Magetan bakal menjadi pionir pilkades e-voting se-Madiun Raya. Dengan tetap menggarisbawahi kemajuan teknologi tidak membelenggu dan membuat candu. Apalagi hanya untuk kepentingan eksistensi di media sosial. Penggunaan teknologi harus dimanfaatkan untuk menambah wawasan. Seseorang yang suka membaca bakal berpikiran analitik. ‘’Literasi di Magetan harus maju. Jadikan menulis dan membaca sebagai habit (kebiasaan, Red),’’ ujarnya.

Agamis. Magetan harus bisa menjadi contoh toleransi beragama bagi daerah lain. Kang Woto -sapaan bupati Magetan- yakin jika nilai-nilai agama dipegang teguh, birokrasi akan berjalan baik. Sebagai contoh, spirit bekerja adalah ibadah sebagaimana diajarkan Islam. Suatu daerah yang maju, sudah pasti memegang teguh ajaran agamanya. ‘’Tidak ada korupsi, layanan publik meningkat,’’ tuturnya.

Ramah. Sektor wisata menjadi daya ungkit perekonomian di Magetan. Sebagai daerah yang mengandalkan sektor pariwisata itu, masyarakat harus ramah. Menengok masyarakat Bali yang sadar betul bahwa mereka menggantungkan hidup dari pariwisata. Bagaimana mereka menjamu wisatawan sehingga betah dan tergoda untuk kembali lagi. ‘’Apalagi Magetan ini pintu masuk Jatim dari barat. Hospitality-nya harus bagus,’’ tekannya.

Terampil. Siapa tak kenal dengan kulit Magetan. Apalagi dengan hasil kerajinan kulit. Kang Woto mengobsesikan banyak perguruan tinggi berdiri di kabupaten ini. Terutama dari jenjang politeknik. Sejauh ini yang telah dijajaki meliputi Politeknik ATK Jogjakarta, Poltek Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, dan Politeknik Kesehatan Cabang Surabaya. ‘’Lulusan diploma itu bisa langsung menerapkan ilmunya. Karena yang diajarkan adalah skill,’’ pungkasnya. (humpro/bel/c1/fin/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button