Madiun

Harga Daging Ayam dan Rokok Merangkak Naik

Sumbang Inflasi Nasional

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Harga daging ayam dan rokok merangkak naik di berbagai daerah dongkrak inflasi nasional bulan Oktober. Tidak terkecuali di Kota Madiun. Badan Pusat Statistika (BPS) Kota Madiun mencatat inflasi Oktober mencapai 0,07 persen. Kenaikan harga cabai yang mencapai 4,49 persen bulan lalu memiliki andil inflasi sebesar 0,05 persen.

Sementara kenaikan harga rokok menjadi komoditas kedua penyumbang inflasi. Tercatat rokok kretek filter mulai merangkak naik di angka 1,48 persen dan memiliki andil inflasi 0,03 persen. Kenaikan harga rokok itu seiring rencana pemerintah menaikan pajak bea cukai rokok sebesar 25 persen tahun mendatang.

Ida Ayu Damayanti, kasi statistik distribusi BPS Kota Madiun mengatakan, kedua komoditas itu menjadi penyumbang tertinggi yang mendongkrak inflasi bulan Oktober. Ketergantungan masyarakat konsumsi daging ayam menjadi salah satu penyebab komoditas itu memiliki andil besar. Pun faktor cuaca turut berpengaruh terhadap hasil panen. Sehingga komoditas itu langka di pasaran. ‘’Rokok berdasarkan catatan kami mulai merangkak naik meskipun belum terlalu signifikan,’’ kata Ida.

Terkait harga rokok, dia menjelaskan jelang kenaikan bea cukai mulai dinaikan perlahan. Agar saat penerapan kenaikan pajak bea cukai itu masyarakat tidak kaget. Pun diperkirakan harga rokok semakin naik dengan prosentase kecil di sisa dua bulan akhir tahun ini. ’’Untuk kenaikan November dan Desember di angka berapa, kami belum bisa memperkirakan secara pasti,’’ lanjutnya.

Selain harga cabai dan rokok kretek filter, sejumlah komoditas utama lain tercatat juga sebagai penyumbang inflasi Oktober. Yakni bawang merah menyumbang inflasi 0,023 persen, jeruk 0,18 persen, kelapa 0,18 persen, genteng 0,015 persen, beras 0,013 persen, ketimun 0,01 persen, kacang panjang 0,009 persen, serta susu untuk bayi sebesar 0,008 persen.

Ida membeberkan sebaliknya ada sepuluh komoditas lain yang menekan inflasi lantaran mengalami penurunan harga. Seperti harga apel misalnya. Mengalami penurunan harga 21,18 persen dan menekan inflasi sebesar minus 0,06 persen. Komoditas lain yakni harga telur ayam, pir, cabe rawait, wortel, semangka, bawang putih, terong panjang, emas perhiasan, dan besi beton. ’’Kami harapkan November ini bisa stabil,’’ ungkapnya.

Diperkirakan inflasi bulan November meningkat meskipun dalam persentase kecil. Hal itu dapat dilihat dari tren tahun sebelumnya. Tahun lalu inflasi meningkat dari 0,18 persen di bulan Oktober menjadi 0,34 persen pada November. Menurutnya tren itu dapat menjadi acuan dan patokan untuk tahun ini. ‘’Tahun 2017 juga sama dari Oktober ke November,’’ sambungnya.

Dia menambahkan saat ini inflasi Kota Madiun sebesar 0,07 persen masih terkendali. Angka tersebut diatas inflasi nasional yang mencapai 0,02 persen. Pun diatas angka Jatim yang mengalami deflasi sebesar 0,02 persen. ‘’Dari delapan kota penghitung inflasi nasional di Jawa Timur, lima daerah mengalami inflasi,’’ tuturnya.

Tertinggi terjadi di Kediri mencapai 0,32 persen, Sumenep 0,30 persen, Probolinggo 0,12 persen. Selanjutnya Kota Madiun 0,07 persen, disusul Jember 0,05 persen. Sementara tiga daerah lainnya mengalami deflasi, yakni Banyuwangi 0,09 persen, Surabaya 0,08 persen, dan Malang 0,04 persen. ’’Harapannya hingga akhir tahun nanti inflasi dapat ditekan dan stabil,’’ ucapnya. (kid/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button