Ngawi

Hama Tikus Memang Sulit Diberangus, Pemkab Ngawi Janji Galakkan Gropyokan Masal

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Dinas Pertanian (Disperta) Ngawi ogah disangkutkan maraknya perkara jebakan tikus yang merenggut nyawa petani. Merujuk Peraturan Pemerintah (3/2005) tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik, penindakan hanya bisa dilakukan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Kabid Tanaman Pangan Disperta Ngawi Amirudin menegaskan, kewenangan pemkab sebatas memberikan imbauan. Bahwa, memasang jebakan listrik di persawahan itu sangat membahayakan. Imbauan itu ditegaskan lewat surat edaran bupati. ‘’Sekarang tiap desa sudah ada papan larangannya,’’ kata Amirudin.

Langkah persuasif itu telah dilakukan secara intens. Pemkab juga memberikan bantuan pagupon untuk burung hantu karena merupakan pemangsa tikus dalam rantai makanan. ‘’Dalam satu malam burung itu dapat memangsa lima belas ekor tikus,’’ terangnya.

Juga, memberikan bantuan obat rodentisida untuk memberangus hama tikus. Namun, cara kedua ini kurang efektif karena sebagian tikus sudah dapat membedakan mana makanan, mana racun. ‘’Kalau tikus tidak memakan racun ini tentu tidak akan mati. Rodentisida belum dapat membunuh dalam jumlah banyak,’’ paparnya.

Sejatinya, pembasmian tikus paling efektif dengan gropyokan. Karena sekali pembasmian dapat memusnahkan dalam jumlah besar. Namun, karena tidak pernah ada gropyokan masal, pembasmian pun belum berjalan efektif. ’’Satu tikus dapat bermigrasi hingga lima kilometer. Kalau tidak dibasmi, pasti berkembang biak lagi,’’ bebernya.

Sayangnya, petani lebih memilih cara-cara instan. Seperti memasang sengatan listrik karena hasilnya bisa langsung terlihat. Sedangkan penanganan menggunakan burung hantu dianggap kurang diminati karena membutuhkan proses. ‘’Ini menjadi PR bagi disperta untuk memberikan edukasi kepada petani tentang pengendalian hama jangka panjang,’’ jelasnya.

Ke depannya juga mengupayakan gropyokan masal. Dengan cakupan wilayah lebih luas dan serentak. Terlebih di masa awal tanam padi sekarang ini. ‘’Karena tikus menyerang setelah dua minggu masa tanam. Atau setelah masa pemupukan pertama,’’ pungkasnya. (mg1/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close