Ngawi

Hadang Korona Masuk Ngawi Kota, Para Pengendara Wajib Bermasker

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Berbagai upaya diakukan pemkab untuk membendung penyebaran Covid-19. Setelah menerapkan kawasan physical distancing di Alun-Alun Merdeka, mulai hari ini warga yang hendak masuk wilayah Ngawi kota diwajibkan mengenakan masker.

Bupati Ngawi Budi ‘’Kanang’’ Sulistyono menjelaskan, kebijakan itu merupakan tindak lanjut anjuran pemerintah agar semua warga mengenakan masker. Pasalnya, yang terlihat sehat atau orang tanpa gejala (OTG) kini bisa menjadi media penularan virus korona. ‘’PDBB (pembatasan sosial berskala besar, Red) harus ditaati bersama,’’ ujar Kanang Senin (6/4).

Tahap awal, lanjut dia, zona wajib bermasker diterapkan di wilayah Ngawi kota. Agar kebijakan itu bisa efektif, pemkab bakal berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan penyekatan di beberapa titik yang menjadi akses masuk. Di antaranya, pertigaan ring road timur, perempatan terminal lama, dan pertigaan terminal baru. ‘’Baik yang naik sepeda motor maupun mobil, semua wajib bermasker,’’ tegasnya.

Kanang menuturkan, untuk hari ini dan besok pengendara yang tidak bermasker masih diberikan toleransi. Pihaknya bakal memberikan secara cuma-cuma. Ada sekitar 5 ribu masker yang akan disiapkan pemkab untuk mendukung kebijakan tersebut.

‘’Saya sudah suruh siapkan masker sebanyak-banyaknya,’’ paparnya. ‘’Hari ketiga (Kamis, Red) sudah tidak ada lagi toleransi. Yang tidak pakai masker harus balik untuk nyari masker dulu,’’ imbuh Kanang sembari menyebut pengunjung instansi pemerintah maupun swasta termasuk minimarket dan pasar juga wajib mengenakan masker.

Dia memprediksi, kebutuhan masker di Ngawi sekitar 50 ribu. Untuk memenuhinya, pemkab bakal menggandeng home industry di wilayah setempat. ‘’Untuk anggarannya masih belum dihitung. Tapi, selain dari pemkab, pemerintah desa juga kami izinkan menggunakan APBDes untuk pengadaan masker di wilayah masing-masing,’’ ujarnya.

Bagaimana dengan sanksi bagi warga yang nekat berkendara tanpa masker? Pihaknya bakal berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk merumuskannya. ‘’Orang bergerombol saja bisa kena sanksi hukum. Apalagi tidak pakai masker yang dapat membahayakan orang lain,’’ kata Kanang.

Menurut dia, ada beberapa alternatif sanksi yang bisa diterapkan. Di antaranya, memberlakukan denda. ‘’Tapi, perlu dicarikan landasan hukumnya dulu, apakah itu melanggar aturan kondisi darurat, membahayakan orang lain, atau lainnya,’’ ujarnya.

Soal kebijakan kawasan tertib physical distancing, Kanang mengaku belum berpikir untuk memperluas titiknya. Untuk sementara, baru diberlakukan di kawasan Alun-Alun Merdeka. Pun, dia meralat pernyataan sebelumnya tentang larangan bagi pedagang berjualan. ‘’Kalau mau jualan silakan, tapi ke alun-alun harus jalan kaki karena parkir kendaraannya di luar (kawasan tertib physical distancing),’’ bebernya.

Sementara, informasi dari dinas kesehatan (dinkes) menyebutkan jumlah orang dengan risiko (ODR) Covid-19 di Ngawi hingga sore kemarin mencapai 11.403. Angkanya meningkat signifikan lantaran banyak perantau yang mudik ke kampung halaman. Sedangkan jumlah orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 200, 132 di antaranya masih dipantau. Sedangkan pasien dalam pengawasan (PDP) sejauh ini baru tujuh dan semuanya sudah dinyatakan sembuh. (tif/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close