Ngawi

Hadang Klaster Pendatang, Perpanjang Penyekatan di Wilayah Perbatasan Ngawi

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Pemeriksaan terhadap warga luar daerah yang hendak masuk wilayah Ngawi bakal diperpanjang. Langkah itu dilakukan seiring banyaknya kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Bumi Orek-Orek yang merupakan klaster pendatang. ‘’Penyekatan di perbatasan masih akan terus dilakukan,’’ kata Bupati Ngawi Budi ’’Kanang’’ Sulistyono Senin (29/6).

Kanang menjelaskan, pasien positif korona di Ngawi selama ini didominasi warga luar daerah. Di antaranya, pendatang dari Tangerang yang kemudian menular kepada keluarganya. Selain itu, klaster dari Temboro, Magetan. ‘’Sekarang paling banyak dari wilayah timur seperti Surabaya dan Sidoarjo,’’ ungkapnya.

Karena itu, dia menilai pembatasan akses masuk Ngawi masih diperlukan. Warga luar daerah yang hendak berkunjung ke Bumi Orek-Orek wajib mengantongi surat keterangan sehat disertai hasil rapid test nonreaktif.

Jika belum memiliki, lanjut Kanang, bisa memeriksakan ke petugas medis yang disiapkan pemkab dengan biaya Rp 175 ribu per orang. ‘’Kalau tidak punya (surat keterangan sehat dan hasil rapid test) ya harus putar balik,’’ tegasnya.

Menurut Kanang, penyekatan akan dihentikan jika situasi penyebaran Covid-19 sudah aman. ‘’Pos penyekatan kami tambah sehingga totalnya sekarang ada lima,’’ ujarnya sembari menyebut satu pos penyekatan tambahan didirikan di Karangjati untuk memeriksa pendatang dari arah Surabaya via jalur nasional.

Sementara itu, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Ngawi kembali bertambah satu menjadi 23. Pasien terbaru merupakan klaster Surabaya. ‘’Tapi, tidak ada kaitannya dengan pasien sebelumnya,’’ tutur Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Ngawi drg Endah Pratiwi.

Dia menjelaskan, pasien ke-23 berjenis kelamin perempuan itu berasal dari Kecamatan Kendal. Sebelumnya, yang bersangkuran sempat mengikuti pelatihan babysitter di Surabaya. Setelah dilakukan pemeriksaan swab ternyata hasilnya positif. Namun, pasien tersebut menolak dirawat di Surabaya. ‘’Akhirnya dikirim ke Ngawi,’’ ujarnya. (tif/c1/isd)

Tak Menginap Cukup Tinggalkan Identitas

PENYEKATAN di exit tol Ngawi hingga saat ini belum dicabut. Pun, saban hari petugas memeriksa sekitar 200 pengguna jalan bebas hambatan. Sebagian merupakan warga Ngawi yang bekerja di luar kota. Ada pula pendatang yang hendak mengunjungi kerabatnya di Bumi Orek-Orek. ‘’Untuk pendatang dengan tujuan luar Ngawi langsung dipersilakan melanjutkan perjalanan,’’ kata Herry Susanto, salah seorang petugas penyekatan, Senin (29/6).

Dia menjelaskan, pendatang yang hendak masuk Ngawi hanya untuk kepentingan pekerjaan atau sekadar singgah tanpa menginap hanya diwajibkan meninggalkan kartu identitas. ‘’Lalu, diganti dengan surat keterangan dan wajib meninggalkan nomor telepon,’’ jelasnya.

Berbeda dengan yang berkunjung lebih dari 24 jam. Mereka wajib menunjukkan surat hasil rapid test nonreaktif. Jika tidak, diberi pilihan putar balik atau melanjutkan perjalanan dengan syarat mengikuti tes cepat di lokasi. ‘’Kalau hasilnya reaktif diperintahkan putar balik dan isolasi mandiri di rumah,’’ katanya.

Desy Monika Sari, salah seorang pengguna tol, mengaku menempuh perjalanan dari Surabaya hendak pulang kampung ke Ngawi. Lantaran tidak mengantongi surat hasil rapid test, perempuan itu memilih dites cepat di lokasi. ‘’Daripada harus putar balik,’’ ucapnya. ‘’Alhamdulillah hasilnya nonreaktif,’’ imbuhnya.  (mg1/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close