Magetan

Habiskan Liburan, Sejumlah Pelajar Kunjungi Pameran

Terkesan Karya Seniman Muda

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Tak semua pelajar menghabiskan liburan sekolah kali ini untuk pelesiran ke objek wisata. Sebagian memilih melihat pameran seni rupa di Gedung Tripandita. ”Saya datang ke sini diajak ayah,” kata Devina Rahayu, salah seorang pengunjung, Kamis (26/12).

Devi mengaku terkesan dengan koleksi lukisan yang dipamerkan. Termasuk gambar tiga dimensi dan seni grafis karya sejumlah seniman muda. ”Senang sih, dijelasin secara mendetail juga. Jadi pengin belajar melukis,” ujar siswi SMP asal Kecamatan Sukomoro itu.

Zulfian Ebnugroho, salah seorang seniman, mengaku tidak menyangka animo pelajar mengunjungi pameran cukup tinggi. Dalam sehari rata-rata ada 50 siswa yang berkunjung. Mayoritas kalangan usia SMP dan SMA. ‘’Ada yang datang karena ingin belajar, ada juga yang foto-foto saja,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, sejak beberapa hari lalu di Gedung Tripandita digelar pameran lukisan. Pada pameran bertajuk Gemah Ripah tersebut dipajang 47 lukisan karya 21 perupa. (fat/c1/isd)

Restorasi Pagar Saja Butuh Rp 300 Juta

KENDALA dana masih mengganjal upaya menjadikan situs Kadipaten Purwodadi di Dusun Temulus, Purwodadi, Barat, sebagai objek wisata. Untuk keperluan restorasi pagarnya saja ditaksir menelan biaya Rp 300 juta.

Saat melakukan penelitian di lokasi tersebut, Balai Pelestari Cagar Budaya Trowulan menyarankan pemerintah desa (pemdes) setempat membeli pagar situs Kadipaten Purwodadi. Tujuannya untuk memudahkan proses restorasi. Sedangkan lahan bagian dalam, pemanfaatannya diserahkan pemdes. ‘’Kalau dibeli sekalian tidak masalah, yang penting pagarnya dulu,’’ kata Kepala Desa Purwodadi Suci Minarni Kamis (26/12).

Namun, dia menginginkan tanah yang ada di depan gapura kadipaten bisa dibeli pemdes. Pasalnya, lokasi itu dinilai representatif untuk menggelar event secara periodik. ‘’Arahnya untuk pariwisata,’’ ujar Suci.

Sekadar diketahui, situs Kadipaten Purwodadi berada di lahan seluas sekitar 3 hektare yang merupakan milik perseorangan. Terhitung ada lima nama yang memiliki tanah tersebut. Empat di antaranya masih keturunan Pangeran Diponegoro. ”Dulu tanah itu dijual ke pihak bukan keluarga mereka,’’ tuturnya. (fat/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button