MadiunPendidikan

Guru-Siswa Kurang Interaksi, Teknologi Terbatasi Spesifikasi

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Mengenalkan aksara kepada anak-anak bukan perkara gampang. Terlebih bagi siswa yang baru menapaki jenjang sekolah dasar. Tingkat keberhasilan guru mengajar baca-tulis-hitung (calistung) dipengaruhi beberapa faktor.

Laras Fitria khawatir hasil pembelajaran anak didiknya menurun. Sebab, guru kelas I SDN 01 Lembah, Dolopo, itu tidak bisa mengenalkan huruf-huruf secara langsung kepada 10 siswanya. Biasanya, ketika pembelajaran tatap muka normal, paling tidak sudah separo kelas dari siswa yang diampunya mahir membaca. Namun, di pandemi ini dia belum dapat memprediksi. ‘’Mengajarnya tidak bisa langsung, interaksi dengan anak berkurang. Tidak bisa memberi contoh pelafalan huruf,’’ ungkapnya.

Sementara kini pembelajaran beralih model dalam jaringan (daring). Pengenalan huruf dapat dilakukan dengan memanfaatkan video call. Namun, Laras menganggap fasilitasi teknologi itu tak berjalan maksimal. Terkendala jaringan internet serta spesifikasi smartphone dari wali murid yang berbeda-beda. Tahapan-tahapan mulai pengenalan vokal sampai konsonan dobel dalam satu kata diajarkan sembari melawan keterbatasan. ‘’Yang cukup susah itu mengajari gabungan konsonan ng atau ny serta huruf yang hampir sama seperti L-R dan D-B. Konsonan dobel seperti dalam kata putra, plastik, juga sulit,’’ paparnya.

Baca dan tulis menjadi satu kesatuan pembelajaran di kelas bawah (SD kelas I, II, dan III). Beragam kendala pembelajaran daring amat dirasakan guru SD. Terlebih bagi kelas paling bawah. Sebab, masa belajar baca anak dari TK juga telah terpangkas korona. Sejak awal Maret lalu, pembelajaran tatap muka di seluruh jenjang ditangguhkan. ‘’Sangat penting untuk melangsungkan pembelajaran langsung. Karena kemampuan anak berbeda-beda,’’ ujarnya.

Yiyin Lestyawati, warga Munggut, Wungu, mengaku kesulitan mengajari anaknya yang masih SD. Dia sampai gemas sendiri ketika anaknya tak lekas mampu memahami materi pelajaran yang dijelaskannya. Dia berharap anaknya bisa sekolah kembali. ‘’Sulit menguasai kata-kata yang pakai huruf ng dan ny. Pelajaran sekarang beda dengan dulu. Saya juga tidak punya basic guru,’’ keluh ibu 34 tahun itu lantaran juga masih memiliki anak bayi. ‘’Enak belajar langsung sama Bu Guru,’’ sahut Aldan, putra Yiyin.

Pembelajaran Baca-Tulis di Kelas Bawah Adalah Kunci

Anifatul Maghfiroh, anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Madiun, menekankan bahwa pembelajaran baca-tulis di kelas I-III menjadi faktor penting terkait kemampuan akademik siswa. Guru kelas VI SDN 1 Balerejo, Kebonsari, itu menilai tingkat penerimaan siswa terhadap materi pelajaran berkaitan erat dengan kelancaran baca dan menulisnya. ‘’Biasanya selalu ada anak kelas VI yang masih kurang lancar membaca,’’ kata Atul, sapaan Anifatul Maghfiroh.

Atul mengungkapkan, kelancaran baca-tulis mesti benar-benar difokuskan pada siswa kelas rendah. Agar tingkat pemahaman materi pelajaran di kelas-kelas selanjutnya bisa lebih maksimal. Diakuinya, pembelajaran di masa normal saja hasilnya belum tentu maksimal. Apalagi, di tengah pandemi seperti sekarang ini. ‘’Dengan minat baca yang baik, penguasaan terhadap materi pelajaran pasti juga baik. Dua hal itu berbanding lurus,’’ tegasnya.

Pandemi ini dikhawatirkan memunculkan efek negatif jangka panjang. Ketidakmaksimalan fondasi baca-tulis bagi siswa berpotensi terus berkelanjutan. Mesti ada metode baru terkait pembelajaran dasar baca-tulis. Dengan cara yang lebih menarik untuk merangsang minat anak didik. ‘’Misal pembelajaran menggunakan buku ukuran separo papan tulis, tulisan besar-besar, ada gambar. Anak-anak pasti akan lebih antusias. Itu model pembelajaran yang saya ketahui saat seminar dalam program USAID dulu,’’ jelasnya. (den/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close