Mejayan

Gula Pasir Tembus Rp 17.500 Per Kilogram

Tekan Harga, Gelar Operasi Pasar

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Kenaikan harga gula pasir di pasaran kian tak terkendali. Di Kabupaten Madiun, harga gula pasir tembus Rp 17.500 per kilogram. Naik sekitar Rp 3.500 dari harga pekan lalu sebesar Rp 14 ribu.

Sementara, normalnya harga jual gula pasir di pasaran Rp 12 ribu per kilogram. Kondisi itu berdampak pada penurunan konsumsi beras konsumen. ‘’Yang biasanya beli satu kilogram, jadi cuma seperampat kilo,’’ kata Ali Mustofa, seorang pedagang sembako di Pasar Baru Caruban, Senin (9/3).

Dia mengungkapkan harga gula sedang melambung dua minggu belakangan. Di pasar tradisional, gula masih bisa ditemui meski dengan harga Rp 17.500 per kilogram. Sementara itu, di toko swalayan stoknya menipis. Bahkan, beberapa di antaranya kosong belakangan ini. ‘’Tidak tahu kenapa harga naik. Sekarang tidak berani ambil banyak. Takutnya nanti malah rugi,’’ ujar Ali.

Berdasarkan harga acuan penjualan di konsumen (HAPK) yang tercantum dalam Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo), harga gula pasir di beberapa pasar mencapai Rp 16.500 ribu per kilogram.

Di sisi lain, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Madiun mencatat sudah sekitar 10 hari lalu harga gula melambung. Harga sudah naik dari produksi. Misalnya harga pokok pembelian (HPP) yang mencapai Rp 11.600. Padahal, itu belum termasuk transpor untuk kirim barang. Sementara itu, pemerintah menerapkan harga eceran tertinggi (HET) Rp 12.500 per kilogram.

Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Kabupaten Madiun Toni Eko Prasetyo mengungkapkan, melambungnya harga gula pasir itu terjadi secara nasional. Tapi, dia menepis ada kelangkaan gula di pasaran. ‘’Kami sudah melayangkan surat ke provinsi untuk mengadakan operasi pasar agar harga gula pasir stabil,’’ katanya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa gula pasir yang beredar di pasaran saat ini merupakan hasil penggilingan pabrik pada tahun lalu. Sementara tahun ini belum ada proses giling. Selain itu, melejitnya harga gula hingga mencapai Rp 17.500 dipicu karena sebaran virus korona (Covid-19). ‘’Kemungkinan dampak korona juga. Sehingga, impor gula tidak boleh sembarangan, harus hati-hati,’’ tegasnya.

Untuk mengatasi persoalan itu, disperdakop bakal menggelar pasar murah dalam waktu dekat. Serta melakukan monitoring dan evaluasi (monev) perkembangan harga gula pasir di pasar. ‘’Melihat tren satu minggu terakhir dari Rp 14 ribu menjadi Rp 17.500 ribu per kilogram, ada kemungkinan harga akan terus naik,’’ tutur Toni. (den/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close