Ngawi

Gondrong Gunarto, Sosok di Balik Sukses Gelaran BOACF

Kenalkan Seni Karawitan ke Berbagai Negara

Bagi warga Ngawi, nama Gondrong Gunarto bisa jadi masih terdengar asing. Namun, di pentas dunia, sosok pria asli Ngawi itu dikenal sebagai salah seorang maestro musik kontemporer berbasis gamelan.

=======================

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

MALAM itu, Gondrong Gunarto tampak duduk bersila di karpet merah panggung di Sendang Tawun. Matanya tak henti memandangi para pemain gamelan di sudut panggung itu. Sesekali tangannya memberi tanda saat mendengar nada yang kurang pas.

Sementara, para pemain gamelan tersebut asyik dengan instrumen masing-masing. Ada kenong, peking, saron, demung, hingga gong. Pun, mereka terlihat enjoy mengiringi setiap lagu yang dibawakan para penyanyi yang tampil malam itu.

Momen itu terlihat pada gelaran Bumi Orek-Orek Art and Culture Festival (BOACF) 2019, Sabtu malam lalu (7/12). ‘’Kami kembangkan gamelan ke seni kontemporer. Tapi, pijakannya tetap musik tradisional,’’ ujar Gunarto.

Bagi pria asal Desa Kuniran, Sine, itu, gamelan seakan sudah menjadi makanan sehari-hari. Jiwa seni mengalir di darahnya dari sang ayah yang seorang dalang. Kemampuan seninya –terutama karawitan- semakin terasah saat Gunarto hijrah ke Solo pada 1986 silam untuk menempuh pendidikan karawitan di sebuah SMA di kota itu. ‘’Berlanjut kuliah S-1 dan S-2 di ISI Solo,’’ tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, nama Gunarto pun semakin melejit. Bahkan, sejak 1999 mulai melanglang buana ke berbagai negara mengenalkan seni karawitan. Pun, beragam prestasi kelas dunia ditorehkan pria 45 tahun itu. Album Ghost Gamelan, misalnya, masuk 10 album terbaik dunia kategori musik tanpa batas. ‘’Terakhir saya ke Australia,’’ ungkapnya.

Menahun berkelana di luar negeri, Gunarto merasakan betul perbedaan penafsiran musik gamelan di masyarakat. Di matanya, orang bule cenderung lebih menghargai musik gamelan ketimbang warga Indonesia sendiri. ‘’Mereka menyebut gamelan hebat, keren, istimewa, sejajar dengan musik klasik,’’ kata Gunarto.

Sejak tiga tahun lalu Gunarto lebih sering menghabiskan waktunya di Indonesia. Pun, dia didapuk menjadi komposer BOACF dua tahun terakhir. ‘’Susah-susah gampang sebenarnya jadi komposer musik kontemporer gamelan. Tapi, karena sudah terbiasa sejak kecil, jadi mengalir saja,’’ ucapnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button