Pacitan

Getol Cetak Surfer Andalan

PACITAN – Tak banyak surfer seperti Salini Rengganis di Pacitan. Memiliki segudang prestasi di usainya yang masih belia. Hal itu wajar, sebab menjadi pemain kelas pro, modalnya berat. Selain niat, perlu dukungan yang kuat dari orang tua. ’’Problemnya anak berminat, orang tua tidak mendukung. Kalau orang tua mendukung, justru anaknya tidak tertarik,’’ ungkap Hendrik Cahyono, salah seorang instruktur surfing Pacitan.

Gepeng -sapaan akrab Hendrik Cahyono- menyebut surfing modalnya berat. Sebab olahraga surfing termasuk dalam hobi mahal. Untuk harga papannya mencapai jutaan rupiah. Belum paket pelatihan bagi yang berniat menjadi surfer profesional. Mereka pun masih memikirkan biaya akomodasi setiap mengikuti kompetisi. ’’Apalagi kompetisinya jauh-jauh, tentu biayanya besar,’’   imbuhnya.

Meski begitu, menelurkan pemain surfing profesional tidak lantas mustahil. Masih ada segelintir yang bertahan. Bahkan menjadi andalan. Yakni, mereka yang kompak antara anak dan orang tua. Hanya mereka cerdas. Memanfaatkan klub yang ada. Seperti Pacitan Surfing Club. Dengan bergabung di klub tersebut, paling tidak informasi hingga beban akomodasi mengikuti kompetisi sedikit terkurangi. ’’Karena ada AD-ART, makanya bisa mengajukan bantuan pendanaan bisa digunakan, ’’ tambahnya.

Selain itu, di Pacitan Surfing Club tersebut, mereka pun dilatih intensif. Waktu memang tidak menentu. Bisa menyesuaikan cuaca hingga kesibukan masing-masing. Termasuk pelatih. Meski begitu, hasilnya pun terbilang lumayan. Beberapa surfer asal Pacitan mampu mengimbangi gudang pemain surfing asal Banyuwangi, Pangandaran, dan lainnya. ’’Padahal perkembangan surfing disana mulai lebih lama,’’ tuturnya. (odi/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close