Magetan

Gerbong Kertapati Saksi Bisu Peristiwa Kelam Pemberontakan PKI 1948

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Dini hari, 18 September 1948. Warga Soco yang masih terlelap diperintah untuk mengungsi oleh segerombol orang. Sekitar pukul 01.30, dari gerbong kereta pengangkut tebu, satu demi satu mayat berlumur darah diturunkan. Sebagian rupanya mengerang, tanda masih hidup. Segerombolan orang itu menggotong mereka menuju sumur tua di desa.

Warga yang mengungsi di sekitar balai desa dapat melihat pemandangan menyayat hati itu dengan jelas. Namun, mereka tak dapat berbuat apa-apa. Selang beberapa hari, warga kembali dari pengungsian. Tampak ceceran darah mengering di jalanan. Di sekitar sumur tua yang tertutup batu, tampak jelas mayat-mayat tumpang tindih di dalamnya. ‘’Ini cerita turun-temurun yang saya dapat,’’ ungkap Ahmad Sukir, juru kunci generasi ketiga Monumen Soco, Jumat (1/10).

Satu demi satu mayat diangkat warga dari dalam sumur. Barulah diketahui, beberapa di antara mayat itu adalah kiai, anggota militer, guru, bahkan pejabat. Total 108 mayat ditemukan. Sebanyak 67 dapat dikenali, sedangkan sisanya tidak diketahui identitasnya. ‘’Semua dibawa ke Madiun untuk dikebumikan,’’ ujarnya.

Kini, di lokasi berdiri Monumen Soco untuk mengenang kejadian kelam tersebut. Gerbong yang digunakan mengangkut ratusan mayat itu dijadikan monumen dan dinamai Gerbong Kertapati. Sukir yang sudah menjadi juru kunci generasi ketiga terkadang masih tak habis pikir mendengar cerita menyayat hati itu dari para pendahulunya. ‘’Nama-nama korban ditulis di prasasti. Mereka orang-orang tidak bersalah, tapi menjadi korban,’’ ucap Sukir. (mg5/c1/naz)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button