Opini

Gerai Masker Keliling

EDISI lalu saya menuliskan tentang pentingnya protokol kesehatan (prokes) dalam penanganan pandemi Covid-19. Protokol kesehatan ini tidak lagi kewajiban. Melainkan sudah menjadi kebutuhan. Orang tidak bisa lepas dari prokes. Kita semua tidak bisa tanpa masker. Hal itu juga diungkapkan Pak Menko Marves. Kita mungkin akan hidup dengan masker hingga bertahun-tahun ke depan.

Ibarat perang, masker ini senjata utama perlindungan diri. Orang yang abai masker berarti tak sayang dengan dirinya sendiri. Tak peduli dengan orang-orang yang disayangi. Kita tidak pernah tahu kapan dan di mana bisa terjangkit lantas menulari. Virus ini tak kasatmata. Kita sendirilah yang harus selalu siaga. Salah satunya dengan disiplin prokes. Khususnya pakai masker.

Masker ini teramat penting sekarang. Karenanya, setiap kali saya berkeliling membagikan sembako, masker tak lupa selalu turut dibagikan. Kepada penerima maupun warga sekitar lokasi. Pedagang juga saya beri. Satu boks langsung. Sengaja saya titipkan untuk dibagikan kepada pembeli. Beruntung ada banyak perusahaan yang menyumbang masker. Terbaru ada dari kumpulan masyarakat Tionghoa yang menyumbang 200 boks. Belum dari yang lain. Pokoknya ada banyak. Ada kalau 100 ribu pcs. Sebagian akan saya titipkan kepada ketua RT bersamaan dengan vitamin. Warga yang membutuhkan bisa langsung minta ke ketua RT.

Selain itu, ada gerai masker. Setidaknya sudah ada lima titik gerai tersebut. Seperti di depan Rumah Dinas Wali Kota. Gerai buka setiap hari. Ada masker nonmedis dan juga masker kain. Masyarakat tidak perlu beli. Yang butuh, silakan datang. Namun, saya rasa itu belum cukup. Bila masyarakat kesulitan datang, kita yang mendatangi. Sudah saya siapkan dua mobil khusus untuk itu. Artinya, ada gerai masker keliling di Kota Madiun. Petugas akan keliling setiap hari mendatangi tempat-tempat umum. Tempat olahraga, misalnya. Yang butuh silakan merapat. Nanti tidak hanya masker. Tapi akan saya tambah susu.

Kita memang tengah berperang. Bukan hanya aparat pemerintah. Tetapi semua masyarakat. Karenanya, semua harus punya alat perlindungan diri. Saat semua sudah pakai masker, setidaknya sudah ada perlindungan pertama. Setelahnya, silakan beraktivitas. Silakan bekerja seperti biasa. Pemerintah selalu mengajak masyarakat untuk disiplin prokes. Tertib memakai masker. Tetapi itu akan percuma kalau masyarakat tidak punya. Atau punya tetapi hanya satu-dua. Karenanya, terus kita bagikan masker. Biar ada untuk ganti. Artinya, masyarakat sudah tidak ada alasan lagi.

Sosialisasi sudah dan terus kita lakukan. Masker juga kita bagikan. Kalau masih ada yang tidak patuh, entah mesti bagaimana lagi. Mungkin perlu langkah tegas lagi. Kita galakkan operasi yustisi. Yang melanggar kena denda atau sanksi sosial seperti dulu.

Masyarakat harus menyadari bahwa masker ini kebutuhan vital layaknya makanan. Saya ingin masker ini seperti keberadaan handphone. Orang pasti langsung kebingungan saat ketinggalan telepon genggamnya. Cepat-cepat pulang untuk mengambil. Masker harusnya juga seperti itu. Begitu kelupaan, langsung cepat pulang untuk mengambil. Pemerintah mempermudahnya. Yang kelupaan tidak perlu pulang. Sudah ada gerai masker di mana-mana. Kalau kurang, ada gerai masker keliling. Saya hanya minta kesadaran masyarakat untuk disiplin protokol kesehatan. Khususnya memakai masker.

Mobil gerai masker keliling ini tidak sendiri. Setidaknya ada dua jenis mobil lain. Salah satunya sudah beroperasi sejak minggu kemarin. Ada mobil logistik khusus anak yatim, piatu, dan yatim piatu korban Covid-19. Hasil pendataan ada 166 anak-anak seperti itu. Mereka tentu perlu kita pantau. Mobil tersebut akan berkeliling ke tempat tinggal mereka. Selain membagikan sembako, juga memantau apa yang sekiranya dibutuhkan. Mereka ini sedang kesusahan karena ditinggal orang tuanya. Pemerintah harus hadir menggantikan peran itu. Yang tinggal sendiri, sedangkan kerabat cukup jauh, saya minta untuk tinggal di ponpes saya. Agar kita bisa pantau setiap hari.

Satu lagi, ada mobil logistik isolasi terpadu. Saya siapkan dua mobil untuk ini. Tugasnya hampir sama dengan yang mobil logistik anak yatim piatu. Petugas akan berkeliling memberikan bantuan ke rumah warga yang tengah menjalani isolasi mandiri (isoman). Petugas juga akan menanyakan terkait keluhan yang mungkin muncul. Informasi ini akan diteruskan kepada petugas di puskesmas terkait. Artinya, agar ada tindakan cepat. Petugas kesehatan memang sudah melakukan pemantauan melalui telemedicine. Ini melengkapi itu. Apalagi, jumlah yang isoman juga cukup banyak.

Berbagai upaya ini kita lakukan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Memang sudah seharusnya seperti itu. ASN itu melayani. Bukan dilayani. Karenanya, saya optimalkan semua yang ada dalam ASN Pemkot Madiun. Saat ini juga tengah kita bentuk tim relawan dari ASN. Jumlahnya sepuluh orang tiap kecamatan. Mereka akan berkeliling memantau warga yang isoman di kecamatan itu. Saat ini, banyak warga yang sebenarnya sakit tetapi enggan melapor. Setelah muncul gejala berat, barulah bertindak. Petugas kesehatan kesulitan memberikan penanganan karena kondisi yang sudah memburuk. Kita ingin menekan itu. Warga yang isoman di atas 50 tahun kita pindahkan ke rumah sakit lapangan atau rumah sakit. Begitu juga mereka yang muncul gejala. Relawan ASN bertugas mencari warga yang seperti itu. Segera ditemukan, segera pula mendapatkan penanganan. Dengan begitu, angka kematian bisa semakin kita tekan.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button