Ngawi

Geliat Ekonomi Pedagang Burung di Kawasan Monumen Soerjo

Dulu Menuai Untung, Kini Sering Buntung

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Kawasan Monumen Gubernur Soerjo di Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, mempunyai dua sisi wajah. Selain sebagai destinasi wisata sejarah, tempat itu juga penuh deretan sangkar yang berisi aneka burung. Pedagang burung memadati tempat yang sudah dibangun sejak 1985 tersebut. Mereka tidak hanya berasal dari Ngawi, tapi juga beberapa daerah di sekitarnya.

Pasar burung tersebut buka setiap hari. Ramai ketika Ahad. Banyak jenis unggas yang diperjualbelikan. Mulai kenari, jalak, sampai perkutut. Bahkan, ayam bekisar. ‘’Dulu awal-awal hanya ada sekitar delapan pedagang burung. Tapi, saat ini ada 42 pedagang unggas,’’ kata Suparmin, salah seorang pedagang, kemarin (24/2).

Dia menuturkan, pedagang burung di kawasan Monumen Soerjo memang terus bertambah meski keberadaannya dulu sebenarnya dilarang. Sebab, aktivitas mereka bisa mengganggu lalu lintas karena letaknya dekat dengan Jalan Raya Solo-Ngawi. Selain itu, menimbulkan kesan kumuh bagi kawasan Monumen Soerjo. ‘’Awal mula diperbolehkan, dengan catatan tidak memakai atap dari genting atau sejenisnya, hanya dengan atap rumput ilalang,’’ jelas Suparmin.

Itu dilakukan dengan tujuan menjaga keasrian kawasan monumen. Pun mengantisipasi jika ada kebijakan penertiban dari pemkab. ‘’Dulu bangunan ini masih semipermanen dengan berbahan kayu. Tapi, setelah difasilitasi oleh Perhutani menjadi bangunan permanen, sekarang menjadi lebih layak,’’ ujar pria asal Dusun Tambak Selo, Desa Pelang Lor, Kedunggalar, tersebut.

Kendati demikian, aktivitas jual beli di lokasi tersebut belakangan mengalami penurunan. Suparmin tidak mengetahui pasti penyebabnya. ‘’Yang jelas, setahun terakhir penjualan, baik burung maupun unggas seperti ayam bekisar, mengalami penurunan signifikan,’’ ungkapnya. (mg1/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close