Ponorogo

Gelar Lapak Mengaji Alquran di Tengah Keramaian

Menggelar lapak tak melulu berkaitan urusan dagangan. Sehimpunan mahasiswa memanfaatkannya sebagai sarana mendidik anak-anak untuk belajar membaca Alquran. Kegiatan itu dirutinkan di Taman Klonosewandono setiap Minggu pagi.

=======================

Arfinanto Arsyadani, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

TIKAR tak seberapa lebar itu digelar dekat jungkat-jungkit. Tiga mahasiswa duduk berhadapan dengan tiga anak sekolah dasar. Tatapan mereka tertuju pada lembaran Alquran di atas meja lipat. Melafalkan ayat demi ayat sesuai arahan. Di sekitar mereka, anak-anak berlarian ke sana ke mari. Bermain ayunan, memanjati wall climbing, hingga menaik-turuni landasan skateboard. Para orang tua duduk mengawasi buah hati sambil menikmati secangkir kopi yang dibeli dari kedai di sisi barat. Setiap Minggu pagi, Taman Klonosewandono selalu menjadi tempat jujukan kedua seusai car free day di Jalan Suromenggolo.

Setelah tak ada lagi anak-anak yang belajar ngaji, remaja itu berhimpun. Membentuk lingkaran di depan banner bertuliskan Lapak Bersama Mengaji Alquran (Laksan). Mendiskusikan isian kegiatan di Minggu pagi berikutnya. Selain terus merutinkan belajar Alquran yang telah dirintis tiga bulan terakhir. ‘’Setiap Minggu pagi, kami gelar lapak mengaji dari pukul 07.00-10.00. Kalau yang ngaji pas banyak, bisa sampai siang,’’ kata Pratama Dinul Kusuma.

Di antara teman-temannya, Pratama dipercaya menjadi ketua Ampera Ponorogo (Himpunan Mahasiswa Palembang). Dari Kota Pempek, komunitas ini mewadahi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bumi Reyog. Mulai IAIN, Insuri, Unida, Unmuh, dan lainnya. Pratama sendiri tercatat sebagai mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Unida. ‘’Dari seratusan mahasiswa Palembang yang tergabung Ampera, ada 20-an yang aktif mengawal kegiatan ini,’’ imbuh mahasiswa 22 tahun ini.

Laksan dilatarbelakangi kegelisahan mahasiswa melihat fenomena sekarang. Tak sedikit anak-anak yang mulai enggan atau malu belajar Alquran. Banyak pula dari kalangan dewasa yang kebingungan mencari wadah untuk belajar Alquran. ‘’Awalnya banyak yang malu-malu. Anak-anak kita ajak bermain dan diberi cerita nabi-nabi. Setelah itu baru diajak ngaji,’’ terang Pratama.

Mengajar ngaji Alquran di tengah keramaian tentu banyak tantangan. Lama-kelamaan, banyak yang tertarik. Meski sasaran utamanya anak-anak, tidak sedikit dari kalangan dewasa yang minta dibimbing mengaji Alquran. ‘’Ada seorang ibu yang selalu datang belajar ngaji ke sini,’’ ungkapnya.

Melihat besarnya minat masyarakat, Ampera berencana mengembangkan kegiatan serupa di tempat keramaian lain. Juga mulai memikirkan kegiatan lainnya. Seperti menyediakan beragam buku bacaan dam menggelar pelatihan bahasa Arab. ‘’Banyak pula yang bertanya tentang les privat membaca Alquran,’’ imbuh Pratama.

Bicara soal Taman Klonosewandono, himpunan mahasiswa ini berharap pemkab dapat memberikan sentuhan perbaikan. Seluruh hamparan di taman kota itu masih beralaskan tanah. Akan lebih sempurna jika beberapa bagiannya lebih dihijaukan. Dengan begitu, debu tidak beterbangan terhempas derap kaki anak-anak yang berlarian. ‘’Taman ini cukup representatif jadi tempat kumpul, bermain, dan olahraga.’’ (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button